Harga Pokok Penjualan

Seringkali istilah Harga Jual dan Harga Pokok Penjualan menimbulkan kerancuan, sehingga ada yang beranggapan bahwa kedua istilah ini sama.

Tapi benarkah demikian?

Menurut ilmu akuntansi, harga jual berbeda dengan harga pokok penjualan. Untuk mengetahui lebih lanjut perbedaannya, simak penjelasan berikut ini

Pengertian Harga Jual

Beberapa ahli memiliki definisi yang berbeda ketika menerangkan apa itu harga jual. Berikut penjelasan mengenai harga jual menurut para ahli:

1. Menurut Mulyadi

Harga jual adalah besaran harga yang dikenakan atau dibebankan kepada konsumen yang didapat dari perhitungan biaya produksi ditambah dengan biaya nonproduksi serta laba yang diharapkan.

2. Menurut Alimisyah dan Padji

Harga jual atau selling price merupakan harga jual yang meliputi biaya yang dikeluarkan untuk produksi dan distribusi ditambah dengan jumlah laba yang diinginkan.

Dari kedua pendapat tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan harga jual adalah harga yang dikeluarkan untuk produksi ditambah biaya non produksi serta laba yang diharapkan.

Pengertian Harga Pokok Penjualan (HPP)

Harga pokok penjualan (HPP) adalah biaya yang muncul dari barang yang diproduksi dan dijual dalam kegiatan usaha. Didalamnya termasuk biaya bahan baku, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead.

HPP ini muncul pada laporan laba rugi sebagai komponen utama dari biaya. Adapun beberapa komponen dalam HPP meliputi:

Persediaan awal barang dagangan

merupakan persediaan barang dagangan yang ada di awal periode atau tahun buku berjalan. Saldo persediaan awal barang dagangan terdapat dalam neraca saldo periode berjalan atau neraca awal perusahaan atau neraca tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Peran Sistem Akuntansi dalam Pemberdayaan UKM

Persediaan akhir barang dagangan

persediaan barang dagangan yang terdapat di akhir periode atau akhir tahun buku berjalan. Biasanya saldo ini diketahui pada data penyesuaian akhir periode.

Pembelian bersih

seluruh pembelian barang dagangan yang dilakukuan oleh perusahaan, baik secara tunai atau kredit, ditambah dengan biaya angkut pembelian kemudian dikurangi dengan potongan pembelian atau retur pembelian

Cara menentukan Harga Jual

Pada dasarnya ada dua metode yang dapat digunakan untuk menentukan harga jual yaitu:

1. Penetapan harga biaya plus (cost-plus pricing method)

Menentukan harga jual per unit produk dengan menghitung juimlah seluruh biaya per unit ditambah jumlah tertentu untuk menutup laba yang dikehendaki pada unit tersebut atau disebut margin.

Rumus Harga Jual = Biaya Total + Margin 

Misalnya:

Usaha bakery Anda mendapatkan order sebanyak 100 roti untuk seminar. Biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi roti tersebut diperkirakan Rp400.000 dengan perincian:

  • Biaya bahan baku = Rp250.000
  • Biaya tenaga kerja = Rp100.000
  • Biaya lain-lain seperti penyusutan alat, dll = Rp50.000

Jika Anda menginginkan laba sebesar 15% dari biaya total, maka:

  • Harga total = Biaya total + Laba (Margin)
  • Harga total = Rp400.000 + (15% x Rp.400.000)
  • Harga total = Rp460.000

Dengan demikian harga untuk setiap roti yang dijual sebesar = Rp460.000/100 (roti) = Rp4.600.

2. Penetapan harga mark up

Para pedagang lebih banyak menggunakan penetapan harga mark up ini karena caranya yang lebih sederhana. Anda membeli barang dagangan kemudian harga jualnya Anda tentukan sendiri setelah menambah harga beli dengan sejumlah mark up.

Rumus Harga Jual = Harga beli + Mark up

Jadi mark up ini adalah kelebihan harga jual diatas harga belinya.

Misalnya:

Anda mempunyai toko baju. Anda beli baju merek Annisa seharga Rp250.000. Kemudian Anda ingin keuntungan Rp50.000, sehingga Anda menjualnya Rp250.000 + Rp50.000 = Rp300.000.

Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP)

Menentukan harga pokok penjualan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:

HPP = Barang tersedia untuk dijual – Persediaan akhir

Keterangan:

Barang tersedia untuk dijual adalah persediaan barang dagangan awal ditambah pembelian bersih

Pembelian bersih = (pembelian + biaya angkut pembelian) – (Retur pembelian + potongan pembelian)

Cara lain dalam menghitung HPP:

  • HPP = Persediaan barang dagangan awal + Pembelian barang dagangan + Beban angkut pembelian + Retur pembelian dan pengurangan harga – Potongan pembelian – Persediaan barang dagangan akhir

Contoh Penghitungan Harga Pokok Penjualan

UD Maju Jaya, Surabaya 31 Desember 2015

  • Persediaan barang dagangan (awal) = Rp15.000.000,00
  • Pembelian = Rp50.000.000,00
  • Retur pembelian dan PH = Rp1.500.000,00
  • Potongan pembelian = Rp2.000.000,00
  • Beban angkut pembelian = Rp1.000.000,00
  • Persediaan barang dagangan (akhir) = Rp10.000.000,00
Baca Juga :  Jenis Transaksi Keuangan dalam Perusahaan Dagang

Penghitungan HPP

Dari data tersebut, maka perhitungan HPP adalah sebagai berikut:

  • HPP = Persediaan barang dagangan (awal) + Pembelian – Retur pembelian – Potongan pembelian + Beban angkut pembelian – Persediaan barang dagangan (akhir)
  • HPP = Rp15.000.000,00 + Rp50.000.000,00 – Rp1.500.000,00 – Rp2.000.000,00 + Rp1.000.000,00 – Rp10.000.000,00
  • HPP = Rp52.500.000,00

Harga Pokok Penjualan sangat penting karena akan menjadikan laporan keuangan perusahaan dapat dipertanggungjawabkan dan akurat.

Rumus Harga Jual

Ada banyak rumus yang bisa digunakan untuk menentukan harga jual.

1. Cost Plus Pricing Method

Maksudnya menenetukan jual dengan cara ditentukan oleh produk yang dihitung dengan menjumlahkan seluruh biaya modal lebih dulu. Setelah itu, baru ditambah harganya sebagai keuntungan.

Harga Jual = Modal + Persentase Laba

2. Mark-Up Pricing Methods

Perhitungan metode ini sangat sederhana. Anda menentukan keuntungan yang ingin didapat terus ditambah modal.

Harga jual = Modal + Mark-Up

3. Break Even Pricing

Harga ditentuukan berdasarkan kebutuhan. Jika permintaan tinggi, maka harga naik. Jika permintaan rendah, maka harga lebih mudah.

4. Keystone Pricing

Perhitungan dilakukan dengan cara menjual produk seharga dua kali lipat dari modal.

Contohnya, modal membuat buku adalah Rp40.000. Jika menggunakan metode ini, maka harga jual buku adalah Rp80.000.

5. Manufacturer Suggested Retail Price

Harga jual produk mengikuti harga yang telah dtetapkan oleh pabrik serupa. Sederet barang yang dijual menggunakan metode ini adalah barang elektronik dan obat.

6. Value Based Pricing

Harga disesuaikan dengan seberapa besar nilai barang bagi pembeli. Tidak ada patokan khusus untuk penentuan harga melalui metode ini. Contoh, benda-benda koleksi seperti perangko yang bisa dibeli jutaan rupiah oleh pecinta perangko. Harga demikian dianggap sepadan karena bagi pecinta perangko, kertas tipis tersebut memiliki nilai tinggi.

7. Harga Pasar

Biasanya dilakukan pada makanan. Contoh harga bubur di daerah Bandung Rp7.000 per porsi. Sementara Rp10.000 per porsi. Harga pasar membutkikan bisa berbeda di setiap wilayah.

Rumus Harga Pokok Penjualan

Menentukan harga pokok penjualan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus di bawah ini. Rumus ini termasuk yang paling sering digunakan dalam perhitungan harga pokok penjualan.

HPP = Barang Tersedia untuk Dijual – Persediaan Akhir

Keterangan:

  • Barang tersedia untuk dijual adalah persediaan barang dagangan awal ditambah pembelian bersih.
  • Pembelian Bersih = (Pembelian + biaya angkut pembelian) – (Retur pembelian + potongan pembelian).
Baca Juga :  Memilih Tim Solid untuk Menjadi Founding Team

Perbebaan Harga Jual, Harga Pokok Penjualan, dan Harga Pokok Produksi

Setelah membahasa harga jual dan harga pokok penjualan, tentunya Anda sudah mengenali perbedaan akan kedua hal tersebut.

Namun, selain Harga Jual dan Harga Pokok Penjualan (HPP), terdapat lagi satu istilah yang umum juga dibicarakan, yakni Harga Pokok Produksi, bisa disingkat juga dengan HPP.

Lantas apa bedanya dari ketiga jenis harga ini?

Agar memudah pemahaman akan ketiga harga ini, berikut komparasi antara ketiga jenis harga tersebut:

Perbedaan Harga Jual dengan Harga Pokok Penjualan

Harga Jual mencakup semua biaya selama proses produksi dilakukan. Biaya tersebut terdiri dari:

  • Biaya produksi (pembelian bahan utama, kemasan, mesin, tenaga SDM)
  • Biaya non-produksi seperti marketing dan iklan
  • Ditambah keuntungan yang didapat dari hasil penjualan itu

Sementara HPP hanya mencakup biaya proses produksi barang.

Perbedaan Harga Pokok Penjualan dengan Harga Pokok Produksi

Harga Pokok Penjualan hanya mencakup biaya yang dibebankan untuk proses produksi barang.

Sementara Harga Pokok Produksi adalah penentu harga jual yang mencakup biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aktiva dari proses produksi.

Produksi ini bisa berupa bahan jadi, setengah jadi, atau bahan yang siap dijual.

Manfaat Perhitungan Harga Pokok Penjualan (HPP)

Perhitungan pada Harga Pokok Penjualan terlihat sedikit berbeda. Perhtungan ini tentunya memiliki manfaat yang bisa jadi tidak muncul di perhitungan Harga Jual.

Berikut manfaat perhitungan Harga Pokok Penjualan, yaitu:

1. Sebagai dasar dalam menentukan harga jual

Dengan mengetahui segala variabel yang melekat pada perhitungan Harga Pokok Produksi, sudah pasti akan memudahkan Anda dalam menentukan jual nantinya.

2. Mengetahui laba yang diinginkan oleh perusahaan

Jika harga jual lebih besar daripada harga pokok penjualan maka akan menghasilkan laba, dan jika harga jual lebih rendah daripada harga pokok penjualan maka akan mengalami kerugian.

Kesimpulan

Saat berbisnis dan hendak menjual produk berupa barang maupun jasa, menentukan harga jual menjadi hal yang sangat penting. Jangan pernah menentukan harga tanpa adanya perhitungan rinci soal modal dan tenaga yang telah dikeluargkan.

Artikel di atas telah menjelaskan secara mendalam bagaimana cara menentukan harga jual dan harga pokok penjualan secara sederhana. Kelengkapan rumus perhitungan harga jual dan HPP bisa lebih memudahkan Anda untuk melakukan praktis.

Semoga bermanfaat!