body mind soul

Manusia sejatinya merupakan gabungan antara 3 unsur yaitu: Body, Mind & Soul (BMS).

  1. BODY = Badan, Fisik, Kesehatan, Kekuatan, Ketrampilan & ACTion
  2. MIND = Pikiran, Ilmu Pengetahuan, Pengalaman, Strategi & Fokus
  3. SOUL = Jiwa, Niat (Nawaitu), Keinginan (Motivasi/ Gairah/ Hasrat/Tekad).

Apabila ketiganya menjadi satu kesatuan dan terjalin sinergi yang harmonis dan fokus, maka kekuatannya akan menjadi luar biasa! Setidaknya 3x dari tenaga (POWER) atau GAYA yang lebih besar dibandingkan jika hanya satu saja yang menjadi penggerak suatu usaha apapun bentuknya yang Anda jalankan. Hebat bukan?!

Simaklah kisah berikut ini:

Seorang pemuda, katakanlah namanya “Raming”, memang dari mudanya sudah ingin sekali bekerja sendiri dan berusaha mengelola suatu perusahaan. Motivasinya sangat kuat. Motif untuk menjadi entrepreneur adalah ketetapan hati yang ada di dalam jiwanya (Soul), dan badannya (Body) mengikuti hasrat yang menggebu itu. Setelah lulus SMA, dia langsung membuka usaha yang telah dipikirkannya sejak SMP, yaitu mendirikan perusahaan katering. Kesenangannya memberikan keceriaan dan semangat yang besar selama dia bekerja. Kegiatannya berjalan cukup aman, tetapi sedang-sedang saja kemajuannya, hanya pas-pasan (standard) saja, lalu tak berapa lama kemudian dia mulai sukar menghadapi berbagai masalah ini:

  • HRD: struktur organisasi, penugasan, kontrak kerja, dan leadership makin rumit.
  • Operasional: SOP, efisiensi, efektivitas, produktivitas, dan quality control pelik.
  • Keuangan: pencatatan transaksi, sistem pelaporan kinerja keuangan, laba rugi, cash flow, inventory (stok bahan baku), prestasi penjualan, hutang piutang ke vendor dan customer, semuanya mulai menumpuk dan tak teratur.
  • Marketing: hanya menjual yang tak terukur profitnya, tanpa tahu strategi 4 P (Product, Price, Promotion & Place), juga 9 P (dibahas nanti di artikel selanjutnya).

Raming mulai merasakan sendiri kenyataan bahwa masalah-masalah di atas semakin banyak menumpuk dan tidak dapat dia pecahkan karena keterbatasan ilmunya sendiri. Bekal pengetahuan SMA agaknya tidak cukup untuk menjawab masalah tersebut atau mencari alternatif solusi serta penyelesaiannya yang bermutu tinggi sehingga bisa menangani dan menyelesaikan masalah tersebut hingga tertata baik. Dia mulai menyadari bahwa perlu peningkatan ILMU BISNIS!

Raming segera meneruskan pelajaran ke tingkat perguruan tinggi di fakultas Ekonomi & Manajemen (join degree). Sejak itu dia terus menggali ilmu dan memahami banyak teori, rumus, sistem, dan pelatihan memecahkan masalah sejenis (terkait dengan strategi kateringnya), melakukan benchmarking, mengerjakan studi kasus, latihan PSDM (Problem Solving and Decision Making), memahami teknik leadership, manajemen, HRD dan Organizing, POLC dan PDCA dalam plan, do, check and action. Memahami perlunya penerapan sistem keuangan, akuntansi untuk pencatatan, tidak sekadar tata buku sederhana (pemula), tetapi sistem software akuntansi yang laporannya standar akuntan, bisa langsung diaudit oleh KAP dan untuk dasar perhitungan pajak resmi. Semuanya dipelajari dan ada panduannya. Dia belajar banyak mengenai hal yang bisa memberikannya ilmu yang cukup untuk memecahkan masalah di perusahaannya.

Baca Juga :  LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN DAGANG

Dengan mengandalkan faktor Semangat & Hasrat atau Niatan dalam Jiwa (Soul) yang didukung oleh ACTion direct, “terjun langsung”, dan investasi ke dalam bidang usaha yang diminati dan direncanakannya, ternyata dua faktor itu saja tidak mencukupi. Maka, dengan bekalan ilmu di perguruan tinggi (kampus/ buku-buku/ dosen), dia terus melengkapi diri dengan dukungan unsur ketiga yaitu Knowledge (Mind).

Body, Mind, & Soul – sinergi ketiganya menjadi lebih kuat dan berdaya lebih tinggi.

Raming terus mengembangkan diri (belajar & berlatih – Skill) agar mampu mengelola perusahaannya makin baik lagi, makin berkembang, profesional, dan canggih (sistem operasi/ produksi/ SOP, HRD, organizing, keuangan, dan manajemen holistic) sehingga produktivitas meningkat, Cash Flow lebih aman dan terkendali, inefisiensi dikurangi (lebih hemat, pemborosan dipangkas minimal), bisa mengelola bisnisnya via internet setiap saat, dan kinerja bisnis bisa dilihat tiap hari melalui laporan keuangan dan rasio.

Marketing – strategi CRM. Menggunakan alat bantu CRM berimbas pada promosi yang lebih efektif, order penjualan mampu ditangani lebih banyak, lebih teratur dan sistimatis, interkoneksi antara penjualan dan produksi bisa lebih lancar dan smooth sehingga makin cepat melalukan pelayanan kepada pelanggan serta back up produksi yang lebih terencana secara semi otomatis. Sebelumnya memberikan kerepotan dalam administrasi, simpang siur, dan banyak kesalahan dalam pembelian bahan baku atau sering kendala penyelesaian pesanan yg tidak tepat waktu (terlambat), karena ada beberapa makanan/ bumbu/ bahan baku yg kurang/ stock habis/ terlambat beli seningga produksi tersendat.

Yang sebelumnya perusahaan Raming menerapkan pembukuan hanya dengan mencatat order pemesanan Catering dengan bon pemesanan, lalu mengumpulkan semua bukti2 bon pembelian untuk bahan baku, perlengkapan pesta, bukti pembelian alat2 masak, sewa tenda, sewa gerobak dorong, biaya transport, bayar pegawai koki sampai pelayan dsb. Semua dengan sistim sederhana yaitu pencatatan tata buku. Akibatnya Raming tak bisa melakukan rekapitulasi atau perumusan setiap hari. Hanya melihat jumlah uang masuk dan keluar setiap hari dari catatan buku, tanpa bisa menghitung berapa keuntungan setiap Ordernya. Dan dalam seminggu Raming tak bisa melihat secara cepat berapa sisa uangnya, dan hutangnya ke vendor atau piutangnya ke pelanggan yang belum bayar full? Dia harus menghitung lagi dengan kalkulator satu persatu. Perlu waktu lama lagi untuk mengetahui apakah stock barang bahan bakunya sudah cukup atau belum? Raming atau bagian pembukuan , apalagi koki, tak bisa segera bertindak dari sekedar melihat laporan pembukuannya, berapa lagi harus beli beras, bumbu yang mana, lauk pauk mana yang harus dibeli, untuk proyek hari ini ? Bisa, tetapi harus rekap lagi secara terpisah, dan satu persatu lagi…jadi kerjanya ulang, maklum karena semua manual, pembukuan paling-paling dicatat di Exel, dan perlu coding untuk mensummary (meringkas/ rank/ select) mana yang diiginkan, untuk operasi inipun, sang staf pembukuan atau Raming, harus tau bagaimana caranya melakukan hal tersebut di Microsoft Exel program. Tanpa pengetahuan tersebut, maka Raming dan staf yang berkepentingan untuk mengcontrol atau merencanakan pembelian setiap pagi, harus kerja extra untuk meneliti catatan2nya plus stock opname atau sederhananya: melihat dan menghitung langsung cek digudang. Pekerjaan tersebut diatas sudah memakan waktu lama dan belum tentu perhitungan manual bisa teliti, dan dilakukan berulang-ulang setiap hari. Tidak effiesien, kurang akurat dan kerugian waktu sebenarnya merugikan perusahaan (“Time is Money”).

Baca Juga :  6 hal Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Laporan Keuangan Bisnis

Selama kuliah, Raming mendapatkan mata kuliah praktikum akuntansi yang mana menggunakan alat bantu berupa software akuntansi. Dia ternyata tidak hanya sekadar mempelajari fungsi akuntansinya namun juga mempelajari apa saja benefit jika dia berinvestasi dalam software akuntansi. Bagi perusahaan skala menengah dengan omzet milyaran setiap tahun seperti milik Raming, investasi dalam software akuntansi dapat diakomodasi sebab sistem tersebut memberikan solusi bagi kesulitan-kesulitan yang dialami sebelumnya, kerjanya bisa lebih cepat, sistematis, informasi per hari bisa didapat dengan jauh lebih cepat, juga akurat, kerja tidak berulang, cukup sekali jurnal entry (key input), lalu selanjutnya menu di software bisa memberi info banyak hal secara otomatis, tinggal klik sub-menu featuresnya. Jauh lebih effisien dan banyak manfaatnya.

Pengetahuan bagaimana menangani Cash Flow, misalnya, awalnya pengetahuan Raming standard saja, yaitu uang kas yang siap untuk mendanai operasi setiap hari harus disiapkan secara cukup, untuk bayar DP atau lunas pesanan pembelian bahan baku masakan catering dan bayar ini itu perlengkapan dan biaya2nya. Tetapi kenyataannya dalam perjalanan operasi sehari-hari, masalah mulai muncul karena ternyata tagihan dari vendor untuk pelunasan belum sempat dihitung secara tepat tanggalnya, harus dicek satu persatu dari belasan hutang dan jatuh temponya kapan? Juga arus kas masuk yang harusnya ditagih kemarin karena sudah jatuh tempo, ternyata terlupa, karena pencatatannya 1 bulan lalu, dan ada puluhan tagihan yang harus dihandle oleh seorang staf pembukuan saja? Tanpa bantuan sistim dan computer, maka staf tersebut dibebani tugas dan tanggung jawab yang terlalu banyak, dan detail. Urusan tanggal harus tepat harinya, jumlahnya, untuk transaksi yang mana, kepada siapa vendor untuk ditagih atau pelanggan untuk dibayar, hal itu perlu setidaknya staf yang bisa (jago) bikin planning, namanya Aging tracking di Ms. Exel. Tanpa dibantu Exel? Wuih…perlu staf yg super daya ingatnya? Atau bikin pencatatan manual setiap hari ? …banyak waktu terbuang…berarti biaya juga akan terbuang.

Baca Juga :  Mengenal dan Memahami Social Entrepreneur

Padahal dengan menerapkan sistem akuntansi software di perusahaan, hal2 seperti cash flow control, jatuh tempo pembayaran setiap hari, penagihan setiap hari, schedule bulanannya seperti apa, jumlah kas yg tersedia (menurut catatan otomatis software) sudah bisa dilihat/ ditampilkan di layar monitor dengan bbrp x klik saja, jauh lebih cepat dan simple. Satu kali input dan selanjutnya tinggal lihat monitor atau pun bisa via Android bila mau (perlu krn mobile?).

Raming merasa bahwa ilmunya sebagai lulusan SMA belum cukup untuk bisa mengelola sebuah perusahaan menengah dengan omzet puluhan juta Rp. Setiap hari, dan milyaran Rupiah setiap tahunnya. Tak cukup ilmu tanpa menambah ilmu KEUANGAN atau MANAJEMEN atau ENTREPRENEUR di level S1 atau setidaknya DIPLOMA D3.

Alternatif lain selain kuliah adalah dengan menambah ilmu via Training & Workshop.

Saya harap dari pembaca artikel ini, tidak ada yang nantinya termasuk yang 80% jadi korban pusaran bisnis Wirausaha ya !?

Lalu bagaimana solusinya? Ingatlah pepatah yang mengatakan tuntutlah ilmu setinggi langit. Carilah ilmu setinggu-tingginya. Itu jalur idealnya, yaitu menyiapkan MIND kita khususnya dari sisi KNOWLEDGE, agar lebih berpengetahuan, lebih paham ilmu penyelenggaraan Usaha secara sistimatis, modern, dan profesional.

Namun bagi Anda yang menginginkan metode lain untuk menjadi entrepreneur, maka jalur alternatif dapat melalui: Entrepreneurship Workshop. Workshop untuk membangun jiwa entrepreneur sangat banyak diselenggarakan oleh berbagai organisasi. Sudah siapkah Anda menjadi entrepreneur sejati?