Tidak bisa dimungkiri, akuntan adalah salah satu pekerjaan yang paling melelahkan di dunia. Bagaimana tidak, inti utama dari pekerjaan sebagai akuntan adalah mencari balance atau keseimbangan. Keseimbangan adalah sesuatu yang tidak mudah untuk didapatkan. Apalagi jika dikaitkan ke dalam akuntansi. Tidak hanya ada ada satu, tapi ada 5 konsep balance akuntansi yang perlu dipahami akuntansi. Cukup rumit untuk memahami semuanya dengan membaca banyak buku akuntansi yang ada. Apa lagi ada pepatah sakti yang tidak hanya menjadi pegangan bagi para akuntan, tetapi juga menjadi momok yang menakutkan. Pepatah tersebut berbunyi “Balance belum tentu benar, tidak balance sudah pasti salah”. Tapi melalui artikel ini, kami akan meringkasnya dan membuat anda mudah untuk memahaminya. Silakan disimak.
1. Balance debit dan kredit
Konsep balance akuntansi yang pertama harus dipahami oleh para akuntan adalah keseimbangan lajur debit dengan kredit. Ini adalah konsep dasar yang wajib dikuasai oleh para akuntan. Ibaratnya, akuntan yang tidak mengerti konsep ini tidak bisa dikatakan sebagai akuntan. Anda hanya perlu memahami rumus sederhana berikut untuk menguasai konsep balance akuntansi yang pertama ini.
A = L + E
A = Aset L = Liabilitas E = Ekuitas
Rumus di atas adalah rumus dasar akuntansi. Seperti yang diketahui, dalam akuntansi ada dua lajur yang saling berjalan beriringan yaitu lajur aset dan lajur kewajiban (disebut juga lajur debit dan kredit). Aset adalah harta yang dimiliki oleh perusahaan baik bersifat likuid atau tidak. Sedangkan liabilitas dan ekuitas adalah modal dan kewajiban yang dimiliki perusahaan seperti investasi, utang, saham dan lain-lain. Karena dua lajur ini berjalan secara beriringan, maka setiap perubahan nilai salah satunya maka akan mengubah nilai yang lainnya. Namun demikian, perubahan tersebut tidak boleh mengubah keseimbangan nilai keduanya. Untuk memahaminya mari kita simak contoh di bawah ini.
A = L + E
4 = 3 + 1
Jika kita tambah nilai di satu sisi, maka kita harus menambah dengan jumlah yang sama di sisi yang lain. Contohnya,
4 (+ 1) = 3 + 1 (+ 1)
Begitu juga ketika kita mengurangi nilai di salah satu lajur, maka kita harus menguranginya dengan jumlah yang sama di lajur yang lain. Seperti di contoh berikut
4 (-2) = 3 + 1 (-2)
Cukup mudah bukan. Tapi mungkin anda masih bingung apa kaitannya dengan akuntansi. Untuk itu mari kita lihat contoh kasus dengan menggunakan metode teknis akuntansi yang anda kenal.
Pada tanggal 1 Januari 2015, Tuan Ahmad berniat membuka toko bangunan dengan menginvestasikan dana sebesar Rp 5 Milyar dengan rincian, uang tunai sebesar Rp 3,5 Milyar, Tanah dan bangunan sebesar Rp 1 Milyar dan Persediaan barang awal sebesar Rp 500.000.000,-. Kemudian akuntan tuan Ahmad akan mencatat
[D] Kas Rp 3.500.000.000 (A)
[D] Tanah dan Bangunan Rp 1.000.000.000 (A)
[D] Persediaan Barang Rp 500.000.000 (A)
[K] Modal Tn Ahmad Rp 5.000.000.000 (E)
Dari contoh di atas kita coba uraikan ke dalam rumus yang dijabarkan sebelumnya. Apakah sesuai antara lajur debit (Aset) dengan lajur kredit (Liabilitas)
A = L + E
Kas + Tanah dan Bangunan + Persediaan Barang = Modal Tn Ahmad
3.500.000.000 + 1.000.000.000 + 500.000.000 = 5.000.000.000
5.000.000.000 = 5.000.000.000
Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa terjadi keseimbangan antara lajur debit dengan lajur kreditnya yaitu dengan nilai Rp 5 Milyar. Jika ada perubahan salah satu diantara keduanya, maka akan ada perubahan juga di sisi lainnya. Contohnya
Tanggal 3 Januari, TB Tn Ahmad membeli lagi persediaan barang untuk toko bangunannya secara kredit sebesar Rp 500.000.000,- dan membeli kendaraan operasional berupa 2 buah truk pasir dengan nilai Rp 700.000.000,- secara tunai. Maka akuntan Tn Ahmad akan mencatat.
[D] Persediaan Barang Rp 500.000.000 (A)
[K] Utang Usaha Rp 500.000.000 (L)
[D] Kendaraan Operasional Rp 700.000.000,- (A)
[K] Kas Rp 700.000.000,- (A)
Dari contoh di atas terdapat dua transaksi dan dua penjurnalan yang dilakukan oleh akuntan Tn Ahmad. Yang pertama pembelian persedian barang dagang secara kredit dan pembelian kendaraan operasional secara tunai. Salah satu transaksi tersebut ternyata mengubah nilai aset dan liabilitas. Jika kita urai ke dalam rumus ALE maka akan tampak seperti ini
Transaksi pertama
A = L + E
Kas + TnB + Persediaan barang = Modal + Utang
3.500.000.000 + 1.000.000.000 + (500.000.000 + 500.000.000) = 5.000.000.000 + 500.000.000
5.500.000.000 = 5.500.000.000
Transaksi kedua
A = L + E
Kas + TnB + Persediaan barang + Kendaraan Operasional = Modal + Utang
(3.500.000.000 – 700.000.000) + 1.000.000.000 + 1.000.000.000 + 700.000.000 = 5.000.000.000 + 500.000.000
5.500.000.000 = 5.500.000.000
Dari uraian di atas terlihat jelas juga bagaimana perubahan yang terjadi antara salah satu lajur juga mempengaruhi lajur yang lainnya. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang konsep balance akuntansi ini, anda bisa melihat artikel kami yang lain berjudul Cara Tepat Memahami Logika Akuntansi.
2. Common Practice atau Best Practice
Konsep balance akuntansi berikutnya adalah keseimbangan dalam menggunakan teknik-teknik akuntansi yang common practice atau best practice. Konsep ini biasanya akan banyak ditemui oleh fresh graduate jurusan akuntansi ketika pertama kali bekerja sebagai akuntan. Common practice adalah teknik akuntansi yang biasa dan sudah dipelajari oleh para calon akuntan ketika masih mengenyam pendidikan di jurusan akuntansi. Sedangkan best practice adalah akuntansi yang tidak dipelajari di selama kuliah namun dipakai dan digunakan ketika bekerja seperti menggunakan software akuntansi Zahir Accounting. Bagi para akuntan muda tentunya ini akan membingungkan apakah akan menggunakan common practice yang sudah diingat dan dihafal atau best practice yang paling praktis digunakan di perusahaan. Untuk itu sebenarnya ada jalan tengah yang dapat di ambil dan dijadikan solusi oleh para akuntan muda untuk menyeimbangkan konsep balance akuntansi ini.
Solusinya yaitu baik common practice atau best practice yang digunakan harus mengikuti kaidah dan standar akuntansi yang sudah ditetapkan. Sebagai seorang akuntan, tentunya ia mengetahui dan memahami standar akuntansi adalah sesuatu yang harus digunakan dan dijunjung tinggi ketika melakuka pekerjaannya sebagai akuntan. Dengan mengikuti standar akuntansi yang ada, tidak masalah bagi akuntan untuk menggunakan common practice ataupun best practice.
3. Short-term profit atau Long-term Profit
Tujuan dari sebuah perusahaan, yang tentunya juga diketahui oleh para akuntan, adalah mencari profit atau laba. Pertumbuhan profit yang semakin meningkat tiap tahunnya adalah sesuatu yang ingin dilihat oleh pemilik perusahaan dan para pemegang saham di dalam laporan laba rugi. Namun untuk menghasilkan profit bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Ada saatnya beban-beban yang ada di perusahaan membengkak akibat perubahan ekonomi atau karena ada fraud. Sehingga hal ini membuat menurunnya profit perusahaan. Dengan demikian, pengontrol keuangan harus melakukan kebijakan pengetatan anggaran untuk menjaga kelangsungan roda bisnis dan juga untuk menekan kerugian usaha. Pengetatan anggaran tersebut bisa berupa pemangkasan biaya dan beban-beban. Namun ketika melakukan pemangkasan biaya dan beban pun akuntan harus melakukannya dengan jeli dan tepat. Jangan sampai niat anda mengurangi beban dan biaya malah berakibat turunnya profit perusahaan di masa yang akan datang.
Untuk menghasilkan keputusan yang tepat tentunya harus didukung dengan data-data yang tepat juga terkait biaya dan beban perusahaan yang akan dipangkas. Namun untuk mendapatkan data yang tepat dan akurat mengenai pengeluaran perusahaan tidak dapat dilakukan dengan waktu yang singkat jika akuntan menggunakan cara manual. Software akuntansi seperti Zahir adalah salah satu solusi yang dapat dicoba. Dengan fitur tabel dan grafik, Zahir mampu menampilkan data biaya dan beban perusahaan dengan grafik yang mudah dibaca dan digunakan. Sehingga dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pemangkasan anggaran dalam kaitannya mempertahankan profit dapat dilakukan dengan tepat dan mudah.
4. Kualitas dan Ketepatan Waktu
Konsep balance akuntansi keempat yang perlu dipahami oleh akuntan adalah kualitas dan ketepatan waktu. Konsep balance akuntansi ini mengacu pada proses dan hasil akhir pembuatan laporan keuangan. Laporan keuangan yang baik bagi para akuntan dan penggunanya adalah laporan keuangan yang memiliki kualitas yang baik sesuai dengan standar akuntansi dan keakuratan data dari segi penyajian serta tepat waktu dari segi waktu penyampaian laporan. Konsep ini adalah konsep yang terumit diantara konsep balance akuntansi lainnya. Hal ini dikarenakan kedua hal ini sulit diseimbangkan. Maksudnya, untuk menghasilkan laporan keuangan dengan kualitas yang akurat dan baik biasanya memerlukan waktu yang cukup lama dalam pembuatannya sehingga untuk tepat waktu pun rasanya agak mepet. Meskipun demikian ada juga akuntan yang mampu menyeimbangkan keduanya dengan baik. Hal ini dapat dilakukan jika anda memiliki manajemen waktu yang baik dalam pengerjaan laporan keuangan.
Jadi kunci untuk dapat menyeimbangkan konsep balance akuntansi ini adalah manajemen waktu yang baik dalam pengerjaan laporan keuangan. Selain itu penggunaan software akuntansi seperti Zahir Accounting pun dapat membantu akuntan untuk menyeimbangkan konsep balance akuntansi ini. Dengan menggunakan software akuntansi Zahir, akuntan dapat menyajikan laporan keuangan yang berkualitas sesuai dengan standar akuntansi. Data-data yang ada dalam laporan keuangan tersebut pun dapat dijamin asalkan diinput dengan tepat dan benar. Selain itu, penyajian laporan keuangan juga dapat dilakukan dengan cepat hanya dengan menekan satu tombol saja.
5. Keseimbangan Data Historis dan Prediksi Masa Depan
Konsep balance akuntansi yang terakhir ini biasanya dihadapi oleh para akuntan yang jabatannya sudah tinggi di sebuah perusahaan yaitu sebagai Chief Financial Operational (CFO) atau Financial Controller (FC). Tujuan konsep balance akuntansi ini memadukan antara data historis laporan keuangan dengan prediksi tepat untuk kelangsungan roda bisnis perusahaan di masa yang akan datang. Dalam prakteknya, seorang CFO akan melakukan verifikasi data historis dari laporan keuangan tahun anggaran dengan proyeksi anggaran yang sudah dibuat di awal tahun anggaran tersebut. Verifikasi tersebut apakah dana yang dikeluarkan pada tahun anggaran tersebut sesuai dan tepat sasaran dengan rancangan anggaran tahun tersebut. Apakah terjadi perbedaan, penyimpangan atau tidak kesesuaian antara rancangan anggaran dengan realisasinya. Jika ya, maka harus ditelusuri dimana perbedaannya dan penyimpangannya. Perbedaan dan penyimpangan anggaran ini adalah tanggung jawab dari seorang CFO. Data-data historis tersebut nantinya akan jadi pertimbangan CFO dengan dewan direksi untuk membuat proyeksi anggaran perusahaan di tahun berikutnya.
Dalam membuat proyeksi anggaran tersebut tentunya harus dibuat dengan sebaik-baik mungkin agar ke depannya tidak terjadi perbedaan antara proyeksi dengan realisasinya dan juga agar tidak terjadi penyimpangan. Tentunya menjaga keseimbangan antara dua hal ini tidak lah mudah. Hal ini dikarenakan beberapa faktor seperti kondisi perekonomian yang berubah, faktor kesalahan dan kecurangan manusia, dan lain-lain. Jika pun harus membuat sebuah prediksi (forecasting) maka harus dilakukan dengan nilai yang realistis bagi perusahaan. Keseimbangan konsep balance akuntansi ini sebenarnya juga dapat dicapai dengan menggunakan software akuntansi Zahir. Software akuntansi Zahir mampu menyajikan grafik dan tabel performa perusahaan dari data-data transaksi yang telah diinput oleh akuntan. Grafik dan tabel performa tersebut tentunya dapat membantu CFO beserta dewan direksi untuk membuat proyeksi anggaran perusahaan ke depannya.