rasio keuangan

Pada bagian pertama, kita telah membahas beberapa rasio yang tergabung dalam analisis rasio likuiditas yang sudah kita ketahui juga bahwa rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menyelesaikan kewajiban jangka pendeknya.

Untuk sekadar mengingatkan kita pada apa-apa saja rasio keuangan yang digunakan oleh setiap perusahaan, kali ini kita akan membahasnya lebih perinci. “Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan (berarti).” (Harahap, 2007:297). Dari pengertian itu kita dapat menyimpulkan bahwasanya rasio keuangan memiliki faedah bagi menentukan keputusan bisnis.

Faedah yang dimaksud meliputi:

  • Penyajian ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca.
  • Komponen penghitung lebih sederhana dibandingkan dengan komponen mentah pada laporan keuangan.
  • Dapat dijadikan acuan untuk perbandingan posisi keuangan perusahaan.
  • Dapat membuat tren untuk prediksi kinerja keuangan di masa mendatang.

Meskipun demikian, analisis rasio keuangan ini tidak bisa serta merta menjadi satu-satunya mekanisme dalam penilaian kinerja perusahaan, terlebih lagi jika suatu data keuangan tidak lengkap, ini menjadi kelemahan yang harus dihindari.

Banyak versi yang membagikan rasio keuangan ke dalam berbagai jenis. Contoh yang tidak asing lagi adalah versi J. Courtis yang memberi kerangka rasio keuangan yakni Profitability, Managerial Performance, dan Solvency. Selain itu, ada pula versi Dupont dengan salah satu rasio keuangannya yaitu ROI (Return on Investment). Versi ini dikenal dengan sebutan Analisis Du Pont.

Yang akan kita bahas dalam artikel bagian kedua ini adalah hanya 3 dari analisis rasio keuangan yang berlaku secara umum. Mari kita bahas satu per satu.

Rasio Solvabilitas

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menuntaskan kewajiban-kewajiban jangka panjangnya sekiranya suatu saat perusahaan dilikuidasi. (Harahap, 2007:303). Beberapa rasio solvabiltas yakni:

a. Debt to Equity Ratio (Rasio Utang pada Modal) digunakan untuk menghitung sejauh mana ekuitas pemilik dapat menutupi utang kepada pihak luar. Makin kecil rasio ini, semakin baik pula.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Rasio Utang pada Modal = Total Utang/ Ekuitas Pemilik

b. Debt to Capital Asset (Rasio Utang pada Aktiva) menunjukkan sejauh mana utang dapat ditutupi oleh aktiva. Semakin besar rasionya, berarti semakin solvable.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Debt to Capital Asset = Total Debts/ Total Assets

Rasio Rentabilitas

Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba selama periode tertentu dengan sumber yang ada seperti penjualan, kas, modal, dll. Beberapa rasio ini meliputi:a. Profit Margin menunjukkan seberapa besar persentase pendapatan bersih yang diperoleh dari setiap penjualan.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Profit Margin = Pendapatan Bersih/ Penjualan

b. Return on Asset menunjukkan perputaran aktiva diukur dari seberapa banyak penjualan. Semakin tinggi rasio ini, semakin baik pula.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
ROA = Penjualan Bersih/ Total Aktiva

c. Return on Equity seberapa jauh laba bersih yang diperoleh dari pemilik modal. Semakin besar rasio ini, semakin bagus.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
ROE = Laba Bersih/ Rata-rata Modal

Rasio Aktivitas

Rasio ini menunjukkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam menjalankan operasi seperti penjualan, pembelian, dll. Beberapa rasio ini meliputi:Receivable Turnover yaitu menunjukkan seberapa cepat penagihan piutang. Semakin besar rasio ini, berarti semakin baik sebab cepatnya laju penagihan piutang.

Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Receivable Turnover = Penjualan kredit bersih/ Rata-rata piutang.

Bagikan artikel