{"id":963,"date":"2012-10-04T16:48:42","date_gmt":"2012-10-04T09:48:42","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.zahiraccounting.com\/?p=963"},"modified":"2022-09-08T14:41:44","modified_gmt":"2022-09-08T07:41:44","slug":"perbedaan-sistem-pembukuan-manual-dengan-sistem-pembukuan-komputerisasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/perbedaan-sistem-pembukuan-manual-dengan-sistem-pembukuan-komputerisasi\/","title":{"rendered":"Perbedaan Sistem Pembukuan Manual Dengan Sistem Pembukuan Komputerisasi"},"content":{"rendered":"<p><strong><strong>A. Secara Manual tanpa Sistem Komputerisasi<\/strong><\/strong><br \/>\n(Menggunakan pensil atau software spreadsheet seperti Lotus 123 atau Ms Excel)<\/p>\n<p>Pada pembukuan manual Anda harus mencatat banyak hal secara manual pada beberapa kertas kerja\/buku, dan menyusun jurnal double entry yang cukup membingungkan bagi mereka yang tidak mengerti akuntansi, serta sangat memakan waktu dan beresiko apabila tidak teliti.<\/p>\n<p>Berikut Penjelasan bagaimana proses pembukuan manual terjadi<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/proses-akuntansi.gif\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-964\" title=\"proses-akuntansi\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/proses-akuntansi.gif\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/proses-akuntansi.gif\" alt=\"\" width=\"533\" height=\"329\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27533%27%20height%3D%27329%27%20viewBox%3D%270%200%20533%20329%27%3E%3Crect%20width%3D%27533%27%20height%3D%27329%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/proses-akuntansi-300x185.gif 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/proses-akuntansi.gif 533w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 533px) 100vw, 533px\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>3. Membuat Jurnal Double Entry<\/strong><\/p>\n<p>Dari transaksi-transaksi yang sudah ada, apakah itu penjualan, pembelian, dan lainnya harus dibuatkan transaksi jurnal double entry (debet \u2013 kredit).<\/p>\n<p>Si pembuat jurnal transaksi harus mengetahui nomor rekening setiap transaksi, bila tidak dihafal maka melihat pada tabel<!--more--><\/p>\n<p>Misalkan penjualan barang A, akan dicatat pada rekenin nomor 41100, sebagai penjualan barang A, kemudian dicatat pula pada rekening piutang usaha misalkan pada rekening 14100.<\/p>\n<p>Untuk transaksi yang cukup kompleks proses pembuatan jurnal ini akan sangat sulit, misalkan suatu penjualan melibatkan discount, pajak, uang muka dan biaya pengiriman.<\/p>\n<p><strong>2. Menghitung Harga Pokok dan mencatatnya pada kartu stok barang.<\/strong><\/p>\n<p>Untuk penjualan barang dagangan, proses pembuatan jurnal juga menjadi rumit, karena harus mengetahui rekening apa untuk barang tersebut, dan harus menghitung harga pokok barang manual \u2013 satu persatu dari kartu stok tiap barang, apakah menggunakan metode FIFO, LIFO atau Rata-rata.<\/p>\n<p>Karena rumitnya perhitungan harga pokok dan pembuatan jurnya, maka banyak perusahaan menerapkan sistem stok opname di akhir minggu atau akhir bulan.<\/p>\n<p>Dengan cara ini laba rugi perusahaan baru diketahui pada akhir minggu atau akhir bulan, tidak setiap saat.<\/p>\n<p><strong>3. Mencatat Kartu Piutang dan Hutang Usaha<\/strong><\/p>\n<p>Setiap terjadi penjualan harus dicatat pada kartu piutang usaha, dan tiap terjadi pembelian juga dicatat pada kartu hutang.<\/p>\n<p>Tujuan pencatatan ini adalah mengetahui sisa hutang\/piutang yg masih harus dibayar dan kapan waktu pembayarannya.<\/p>\n<p><strong>4. Menghitung penyusutan asset<\/strong><\/p>\n<p>Setiap harta atau asset perusahaan dicatat pada buku tersendiri. Setiap bulan akan dihitung beban penyusutan dan beban amortisasinya. Selanjutnya dibuat jurnal transaksi penyusutan.<\/p>\n<p><strong>5. Menyusun Buku Besar<\/strong><\/p>\n<p>Dari transaksi-transaksi jurnal yang telah dibuat, disusun dan dikelompokkan berdasarkan nomor rekeningnya masing-masin, ini disebut Buku Besar.<\/p>\n<p>Contoh : Buku Besar Piutang Usaha<br \/>\n1\/2\/2005 Penjualan PT ABC \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0Rp 1.000.000,-<br \/>\n3\/2\/2005 Penjualan PT DKL \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0Rp 5.000.000,-<br \/>\n5\/2\/2005 Penjualan PT ABC \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0Rp 2.000.000,-<br \/>\n2\/2\/2005 Pembayaran PT ABC \u00a0 \u00a0 Rp \u00a0 \u00a0500.000,-<br \/>\n\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014\u2014<br \/>\nTotal Piutang Usaha \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Rp 8.500.000,-<\/p>\n<p><strong>6. Membuat Worksheet atau Neraca Lajur<\/strong><\/p>\n<p>Total nilai per masing-masin buku besar seluruh rekening yang ada dikumpulkan dalam worksheet<\/p>\n<p>Kemudian disusun pada kolom-kolom apakah pada posisi debet atau kredit, dicari saldo awalnya dan dihitung saldo akhirnya.<\/p>\n<p><strong>7. Menyusun Laporan Necara dan Laba Rugi<\/strong><\/p>\n<p>Dari Worksheet atau neraca lajur tersebut dapat disusun neraca percobaan, atau langsung dibuat laporan neraca dan laporan laba rugi.<\/p>\n<p>Laporan neraca dan laba rugi ditampilkan dalam bentuk yang terstruktur sesuai klasifikasi per masing-masing rekening.<\/p>\n<p><strong>8. Menyusun Laporan Aliran Kas<\/strong><\/p>\n<p>Pembuatan laporan aliran kas jauh lebih rumit daripada laporan Neraca dan Laba Rugi. Dimana harus diketahui necara bulan sebelumnya, menghitung perubahaannya, menghitung nilai penyusutan dan menyusunnya menjadi laporan sesuai aturan akuntansi yang berlaku.<\/p>\n<p><strong>9. Membuat analisa rasio dan grafik-grafik<\/strong><\/p>\n<p>Dari laporan keuangan yang sudah dibuat dapat dihitung rasio-rasio bisnis berdasarkan formula-formula yang baku. Serta dibuat pula dalam format grafik untuk memudahkan manajemen dalam menganalisa kinerja perusahaan.<\/p>\n<p>Kebayangkan\u2026.. kalo semua proses ini dilakukan secara manual??<\/p>\n<p><strong><strong>B. Menggunakan Sistem Komputerisasi<\/strong><\/strong><\/p>\n<p>ada perbedaan proses akuntansi yang dikomputerisasi dgn yang manual. Laporan seperti daftar piutang, daftar utang dan laporan interim dapat disusun dan dicetak setiap saat dengan segera. Kalau data penyesuaian telah dimasukkan dalam komputer maka laporan keuangan akhir dapat segeradicetak. Oleh karena itu, dalam sistem komputer tidak diperlukan lagi kertas kerja seperti<br \/>\npada sistem manual. Perlu dicatat bahwa konsep pelaporan keuangan tidak dapat diganti<br \/>\noleh komputer, yang dapat diganti dengan komputer adalah proses pengolahan datanya.<\/p>\n<p>Kalau dibandingkan dengan sistem manual, sistem komputerisasian memang jelas<br \/>\nmempunyai keunggulan (benefit) khususnya dalam hal kecepatan (speed), ketelitian<br \/>\n(accuracy) dan kapasitas (capacity) pemrosesan.<br \/>\nKecepatan komputer dapat diandalkan karena komputer mengerjakan suatu perintah<br \/>\ndalam hitungan mikrodetik (microsecond). Perkembangan chip terakhir telah memungkinkan<br \/>\nkecepatan dalam seperbilliun detik (nanosecond) atau bahkan dalam sepertrilliun detik<br \/>\n(picosecond). Dengan kecepatan ini suatu transaksi dapat diproses dalam seketika.<br \/>\nKetelitian jelas dapat diandalkan karena setelah data disiapkan dengan benar<br \/>\nkomputer akan memroses tanpa campur tangan manusia lagi dan kalau komputer sudah<br \/>\ndiprogram dengan benar kemungkinan kesalahan perhitungan dan klasifikasi menjadi kecil.<br \/>\nItulah sebabnya sebelum suatu komputer dan programnya digunakan, suatu percobaan (trial<br \/>\nrun) dengan data percobaan perlu dilakukan untuk memverifikasi program. Dalam sistem<br \/>\nmanual, karena tiap langkah dikerjakan oleh manusia, kemungkinan kesalahan menjadi lebih<br \/>\nbesar.<\/p>\n<p>Kapasitas untuk menyimpan, mencatat dan mencetak data menjadi sangat besarkarena data disimpan dalam bentuk elektromagnetik. Oleh karena itu, di samping laporan\u00a0utama komputer dapat diprogram untuk menghasilkan laporan-laporan tambahan lainnya\u00a0termasuk rincian-rincian yang diperlukan.<\/p>\n<p>Namun demikian, karena semua data tidak terekam dalam bentuk yang dapat dibaca\u00a0oleh manusia, kegagalan komputer (computer failure) dapat merunyamkan perusahaan\u00a0karena data dapat rusak atau hilang atau tidak dapat dibaca kembali. Itulah sebabnya\u00a0diperlukan suatu mekanisme backup. Manipulasi dengan komputer dan kejahatan dengan\u00a0komputer (computer crime) juga merupakan ancaman bagi perusahaan yang mengandalkan\u00a0operasi dan pencatatan keuangannya dengan komputer<\/p>\n<p>Bila dipelajari sifatnya, proses mulai dari penjurnalan sampai ke pelaporan sebenarnya<br \/>\nbersifat matematis (karena hubungan buku besar dapat ditunjukkan dalam persamaan<br \/>\nakuntansi, sistematis (karena urutan mengerjakannya jelas) dan logis (karena unsur<br \/>\npertimbangan atau judgement tidak terlibat lagi). Dengan kata lain, proses tersebut sifatnya<br \/>\nadalah penambahan, pembandingan, penyortiran, pereklasifikasian, dan peringkasan dengan<br \/>\ncara tertentu yang sudah jelas atau pasti. Pekerjaan atau tugas yang demikian biasanya<br \/>\nmenjadi objek komputerisasi.<br \/>\nDengan sistem komputer seperti di atas maka langkah yang paling kritis adalah<br \/>\nlangkah analisis transaksi karena kalau langkah ini salah, hasil pengolahan data oleh<br \/>\nkomputer juga ikut salah.\u201d<br \/>\njadi, semua proses akuntansi dapat di komputerisasi.<\/p>\n<p>Walaupun dengan penggunaan komputer kegiatan-kegiatan dalam siklus akuntansi<br \/>\nmanjadi tidak ada lagi, konsep yang dipelajari dalam sistem akuntansi manual tetap<br \/>\ndiperlukan karena apa yang dikerjakan oleh komputer tetap mengikuti konsep yang<br \/>\ndigunakan dalam sistem akuntansi manual.<br \/>\nkarena akan ada pelaporan yang disusun dan dicetak segera.<\/p>\n<p>Secara garis besar proses akuntansi dengan sistem komputerisasi sbb :<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/proses-zahir-2.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-965\" title=\"proses-zahir-2\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/proses-zahir-2.jpg\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/proses-zahir-2.jpg\" alt=\"\" width=\"365\" height=\"414\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27365%27%20height%3D%27414%27%20viewBox%3D%270%200%20365%20414%27%3E%3Crect%20width%3D%27365%27%20height%3D%27414%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/proses-zahir-2-264x300.jpg 264w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/proses-zahir-2.jpg 365w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 365px) 100vw, 365px\" \/><\/a><\/p>\n<p>1. Input transaksi pada formulir yang disediakan.<br \/>\n2. Seluruh laporan keuangan dan \u00a0Analisa Bisnis untuk menampilkan grafik dan analisa keuangan.<\/p>\n<p>Seluruh proses pembuatan jurnal double entry, pencatatan kartu hutang dan piutang usaha, mencatat pemakaian barang dan menghitung harga pokok barang, serta perhitungan penyusutan dan pembuatan laporan, grafik dan analisa keuangan dilakukan secara otomatis.<\/p>\n<p>Seluruh data yang telah diisi akan disimpan dan dapat digunakan kembali pada transaksi \u2013 transaksi yang lain.Seperti data pelanggan, pemasok dan data barang, cukup dibuat satu kali selanjutnya tinggal digunakan,begitu juga dengan laporan yang diinginkan,seluruh laporan dapat disajikan dikarenakansemua datasudah ke rekam dengan baik.Dengan cara ini histori transaksi pelanggan, pemasok dan barang persediaan dapat dianalisa dengan baik.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/report.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-966\" title=\"report\" src=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27300%27%20height%3D%27171%27%20viewBox%3D%270%200%20300%20171%27%3E%3Crect%20width%3D%27300%27%20height%3D%27171%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2012\/10\/report.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"171\" \/><\/a><\/p>\n<p>Bila dipelajari sifatnya, proses mulai dari penjurnalan sampai ke pelaporan sebenarnya<br \/>\nbersifat matematis (karena hubungan buku besar dapat ditunjukkan dalam persamaan<br \/>\nakuntansi, sistematis (karena urutan mengerjakannya jelas) dan logis (karena unsur<br \/>\npertimbangan atau judgement tidak terlibat lagi). Dengan kata lain, proses tersebut sifatnya<br \/>\nadalah penambahan, pembandingan, penyortiran, pereklasifikasian, dan peringkasan dengan<br \/>\ncara tertentu yang sudah jelas atau pasti. Pekerjaan atau tugas yang demikian biasanya<br \/>\nmenjadi objek komputerisasi.<br \/>\nDengan sistem komputer seperti di atas maka hal yang paling penting dilakukan adalah<br \/>\nanalisis transaksi karena kalau langkah ini salah, hasil pengolahan data oleh<br \/>\nkomputer juga ikut salah,disinilah peran penting seorang akuntan<br \/>\njadi, semua proses akuntansi dapat di komputerisasi sehingga\u00a0dengan penggunaan komputer kegiatan-kegiatan dalam siklus akuntansi yang dilakukan secara manual\u00a0manjadi tidak ada lagi, namun konsep yang dipelajari dalam sistem akuntansi manual tetap\u00a0diperlukan karena apa yang dikerjakan oleh komputer tetap mengikuti konsep yang\u00a0digunakan dalam sistem akuntansi manual\u00a0karena akan ada pelaporan yang disusun dan dicetak segera\u2026<\/p>\n<p>Sumber : <a href=\"https:\/\/www.zahiraccounting.com\/id\/modules\/smartfaq\/faq.php?faqid=102\">www.zahiraccounting.com<\/a> , <a href=\"https:\/\/yys.atmajaya.ac.id\/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=58:perbedaan-pembukuan-manual-dengan-zahir-accounting&amp;catid=37:cara-kerja-zahir-accounting&amp;Itemid=55\">Atma Jaya Foundation<\/a><\/p>\n\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>A. Secara Manual tanpa Sistem Komputerisasi (Menggunakan pensil atau software spreadsheet seperti Lotus 123 atau Ms Excel) Pada pembukuan manual Anda harus mencatat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":964,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[75],"tags":[],"views":6431,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/963"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=963"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/963\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/964"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=963"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=963"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=963"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}