{"id":4342,"date":"2022-02-18T08:51:00","date_gmt":"2022-02-18T01:51:00","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.zahiraccounting.com\/?p=4342"},"modified":"2022-09-08T16:40:30","modified_gmt":"2022-09-08T09:40:30","slug":"syarat-menjadi-auditor-internal-dan-eksternal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/syarat-menjadi-auditor-internal-dan-eksternal\/","title":{"rendered":"Auditor: Jenis, Syarat Wajib Profesi dan Etikanya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/syarat-menjadi-auditor-internal-dan-eksternal.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-4343\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/syarat-menjadi-auditor-internal-dan-eksternal.png\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/syarat-menjadi-auditor-internal-dan-eksternal.png\" alt=\"syarat menjadi auditor\" width=\"630\" height=\"200\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27630%27%20height%3D%27200%27%20viewBox%3D%270%200%20630%20200%27%3E%3Crect%20width%3D%27630%27%20height%3D%27200%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/syarat-menjadi-auditor-internal-dan-eksternal-300x95.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2014\/12\/syarat-menjadi-auditor-internal-dan-eksternal.png 630w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 630px) 100vw, 630px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Standar Profesi Auditor merupakan ketentuan yang harus dipenuhi untuk menjaga kualitas kinerja Auditor dan hasil auditnya.<\/p>\n<p>Standar audit sangat menekankan kualitas profesional auditor serta cara auditor mengambil pertimbangan dan keputusan sewaktu melakukan pemeriksaan dan pelaporan.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, Anda yang ingin menjadi auditor atau ingin menggunakan jasa audit di perusahaan, Anda harus mengetahui apa saja syarat-syarat menjadi auditor, baik auditor internal dan auditor eksternal.<\/p>\n<p>Pada kesempatan kali ini saya ingin membahas mengenai profesi ini hingga syarat menjadi auditor internal dan auditor eksternal secara umum.<\/p>\n<h2>Apa Itu Audit Internal dan Audit Eksternal?<\/h2>\n<p>Sebelum membahas apa saja syarat untuk menjadi auditor, saya ingin mengajak Anda untuk mengenali dua jenis audit yang umumnya digunakan oleh perusahaan, yaitu audit internal dan eksternal.<\/p>\n<h3>1. Audit Internal<\/h3>\n<p>Audit internal adalah sebuah kegiatan yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi badan secara independen.<\/p>\n\n<p>Kegunaan audit internal ini untuk membantu badan mencapai objektif tujuan dengan sistematis, dengan pendekatan terperinci dalam menilai dan meningkatkan efektivitas dari risiko manajemen, kontrol, dan proses badan organisasi.<\/p>\n<p>Audit internal juga digunakan sebagai perantara untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi suatu organisasi dengan menyediakan wawasan dan rekomendasi berdasarkan analisis dan dugaan yang bersumber dari data dan proses usaha.<\/p>\n<p>Para auditor internal dikenal sebagai karyawan yang dibentuk untuk melakukan audit tersebut.<\/p>\n<p>Sementara itu, menurut <strong>IAI<\/strong> (<strong>Ikatan Akuntan Indonesia<\/strong>) dalam <strong>SPAP<\/strong> (<strong>Standar Pelaporan Akuntan Publik<\/strong>) menyebutkan bahwa pengertian audit internal adalah suatu aktivitas penilaian yang independen dalam suatu organisasi untuk menguji dan mengevaluasi aktivitas-aktivitas organisasi sebagai pemberi bantuan bagi manajemen.<\/p>\n<p>Adapun pengertian audit intern yang dikemukakan oleh <strong>Brink Z. Victor<\/strong> dan <strong>Witt Herbert<\/strong> dalam bukunya \u201c<strong>Modern Internal Auditing<\/strong>\u201d adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p>Audit internal adalah fungsi penilaian independen yang dibentuk dalam organisasi untuk memeriksa dan mengevaluasi kegiatannya sebagai layanan kepada organisasi<\/p>\n<p>Sementara <strong>IIA\u2019S Board of Director<\/strong> mengemukakan pengertian internal audit sebagai berikut:<\/p>\n<p>Audit internal adalah aktivitas konsultasi dan asuransi yang independen dan objektif yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi.<\/p>\n<p>Audit ini membantu organisasi mencapai tujuannya dengan membawa pendekatan yang sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas manajemen risiko, mengendalikan proses tata kelola<\/p>\n<h3>2. Audit Eksternal<\/h3>\n<p>Audit eksternal adalah audit yang dilakukan oleh badan (independen) eksternal yang memenuhi syarat-syarat.<\/p>\n<p>Jenis audit ini bertujuan untuk menentukan antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Apakah catatan akuntansi itu akurat dan lengkap?<\/li>\n<li>Apakah disusun sesuai dengan ketentuan <strong>PSAK<\/strong> (<strong>Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan<\/strong>)?<\/li>\n<li>Apakah laporan yang disiapkan dari data menyajikan posisi keuangan dan hasil usaha keuangan secara wajar?<\/li>\n<\/ul>\n<p>Pada pengertian lainnya disebutkan bahwa:<\/p>\n<p>Audit eksternal adalah pemeriksaan berkala terhadap pembukuan dan catatan dari suatu entitas yang dilakukan oleh pihak ketiga secara independen (auditor).<\/p>\n<p>Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa catatan-catatan telah diperiksa dengan baik dan akurat.<\/p>\n<p>Selain itu, proses audit ini haruslah sesuai dengan:<\/p>\n<ul>\n<li>Konsep yang mapan<\/li>\n<li>Prinsip<\/li>\n<li>Standar akuntansi<\/li>\n<li>Persyaratan hukum<\/li>\n<\/ul>\n<p>Ketika hasil audit sudah memenuhi semua kriteria tersebut, maka akan memberikan pandangan yang benar dan wajar terkait keadaan keuangan badan.<\/p>\n<p>Beberapa sumber lain juga menjelaskan mengenai definisi audit eksternal yang cukup bervariasi, seperti menyebutkan bahwa:<\/p>\n<p>Audit eksternal adalah review dari laporan keuangan atau laporan dari suatu entitas, biasanya pemerintah atau bisnis, oleh seseorang tidak berafiliasi dengan perusahaan atau lembaga.<\/p>\n<p>Jenis audit ini memainkan peran utama dalam pengawasan keuangan perusahaan dan pemerintah karena mereka dilakukan oleh individu di luar dan karena itu memberikan pendapat tidak memihak.<\/p>\n<p>Audit eksternal biasanya dilakukan secara berkala oleh bisnis, dan biasanya diperlukan tahunan oleh hukum bagi pemerintah.<\/p>\n<h2>Jenis-jenis Auditor<\/h2>\n<p>Adanya perbedaan jenis audit, maka pihak yang menjalankan audit atau auditor pun juga berbeda. Berdasarkan jenisnya, terdapat dua jenis auditor dan ini mengikuti jenis auditnya itu sendiri, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>Auditor internal<\/li>\n<li>Auditor eksternal<\/li>\n<\/ul>\n<h3>1. Auditor Internal<\/h3>\n<p>Jenis auditor ini juga dikenal pula dengan istilah Internal Auditor.<\/p>\n<p>Dalam pengertiannya, auditor internal adalah suatu profesi yang memiliki standar dan kode etik profesi yang harus dijalankan secara konsekuen dan konsisten.<\/p>\n<p>Dalam paradigma lama, internal auditor hanya berfungsi membantu manajemen puncak (<em>top management<\/em>) dalam:<\/p>\n<ul>\n<li>Pengamanan aset (<em>safeguard of asset<\/em>) perusahaan<\/li>\n<li>Mengawasi jalannya operasional perusahaan sehari-hari, terutama dari aspek pengendalian (<em>control<\/em>)<\/li>\n<\/ul>\n<h3>2. Auditor eksternal<\/h3>\n<p>Auditor yang berdiri sebagai pihak ketiga di luar perusahaan, di mana mereka bekerja berdasarkan surat perintah kerja.<\/p>\n<p>Auditor jenis ini bekerja di bawah Kantor Akuntan Publik dan bekerja secara independen dan objektif.<\/p>\n<h2>Syarat-syarat yang Harus Dipenuhi Untuk Menjadi Auditor<\/h2>\n<p>Menjadi auditor jelas bukan hal yang mudah. Dari penjelasan mengenai pengertian dan penjelasan jenis-jenis auditor, jelas kedua profesi ini tidak bisa dijalankan sembarang oleh individu.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, untuk menjadi auditor juga sudah ada ketentuannya yang harus dipenuhi. Untuk lebih jelasnya berikut syarat-syaratnya, antara lain:<\/p>\n<ol>\n<li>Memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor<\/li>\n<li>Memiliki independen dalam setiap mental<\/li>\n<li>Menggunakan keahlian profesionalnya dengan cermat dan seksama sebagai seorang auditor<\/li>\n<\/ol>\n<p>Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, kegiatan audit bertujuan untuk menilai layak dipercaya atau tidaknya laporan pertanggungjawaban manajemen.<\/p>\n<p>Penilaian yang baik adalah yang dilakukan secara objektif oleh orang yang ahli (kompeten) dan cermat (due care) dalam melaksanakan tugasnya.<\/p>\n<p>Untuk menjamin objektivitas penilaian, pelaku audit (auditor) baik secara pribadi maupun institusi harus independen terhadap pihak yang diaudit (auditor).<\/p>\n<p>Dan untuk menjamin kompetensinya, seorang auditor harus memiliki keahlian di bidang auditing dan mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai bidang yang diauditnya.<\/p>\n<p>Sedangkan kecermatan dalam melaksanakan tugas ditunjukkan dengan:<\/p>\n<ul>\n<li>Perencanaan yang baik<\/li>\n<li>Pelaksanaan kegiatan sesuai standar dan kode etik<\/li>\n<li>Supervisi yang diselenggarakan secara aktif terhadap tenaga yang digunakan dalam penugasan<\/li>\n<\/ul>\n<p>Secara singkat, ada tiga poin penting dalam syarat menjadi auditor, yaitu kompetensi, independensi, dan cermat dan seksama.<\/p>\n<p>Lantas, apa maksud dari ketiga poin penting ini untuk menjadi auditor?<\/p>\n<p>Agar mudah memahami ketiga poin ini, beriku penjelasan terkait syarat menjadi auditor.<\/p>\n<h3>1. Kompetensi<\/h3>\n<p>Kompeten artinya auditor harus memiliki keahlian di bidang auditing dan mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai bidang yang diauditnya.<\/p>\n<p>Kompetensi seorang auditor di bidang auditing ditunjukkan oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimilikinya.<\/p>\n<p>Dari sisi pendidikan, idealnya seorang auditor memiliki latar belakang pendidikan (pendidikan formal atau pendidikan dan latihan sertifikasi) di bidang auditing.<\/p>\n<p>Sedangkan pengalaman, lazimnya ditunjukkan oleh lamanya yang bersangkutan berkarir di bidang audit atau intensitas atau sering dan bervariasinya melakukan audit.<\/p>\n<p>Jika auditor menugaskan orang yang kurang atau belum berpengalaman, maka orang tersebut harus disupervisi(dibimbing) oleh seniornya yang berpengalaman.<\/p>\n<p>Kompetensi auditor mengenai bidang yang diauditnya juga ditunjukkan oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman yang dimilikinya.<\/p>\n<p>Auditor yang mengaudit laporan keuangan harus memiliki latar belakang pendidikan dan memahami dengan baik proses penyusunan laporan keuangan dan standar akuntansi yang berlaku.<\/p>\n<p>Demikian pula dengan auditor yang melakukan audit operasional dan ketaatan.<\/p>\n<p>Dia harus memiliki pengetahuan yang cukup mengenai kegiatan operasional yang diauditnya, baik cara melaksanakannya, maupun kriteria yang digunakan untuk melakukan penilaian.<\/p>\n<p>Jika auditor kurang mampu atau tidak memiliki kemampuan tersebut, maka dia (auditor) wajib menggunakan tenaga ahli yang sesuai.<\/p>\n<h3>2. Independensi<\/h3>\n<p>Independen artinya bebas dari pengaruh baik terhadap manajemen yang bertanggung jawab atas penyusunan laporan maupun terhadap para pengguna laporan tersebut.<\/p>\n<p>Hal ini dimaksudkan agar auditor tersebut bebas dari pengaruh subjektivitas para pihak yang terkait, sehingga pelaksanaan dan hasil auditnya dapat diselenggarakan secara objektif.<\/p>\n<p>Independensi yang dimaksud meliputi independensi dalam kenyataan (in fact) dan dalam penampilan (in appearance).<\/p>\n<p>Independensi dalam kenyataan lebih cenderung ditunjukkan oleh sikap mental yang tidak terpengaruh oleh pihak mana pun.<\/p>\n<p>Sedangkan independensi dalam penampilan ditunjukkan oleh keadaan tampak luar yang dapat mempengaruhi pendapat orang lain terhadap independensi auditor.<\/p>\n<p>Contoh penampilan yang dapat mempengaruhi pendapat orang terhadap independensi auditor, apabila dia (auditor) sering tampak makan-makan atau belanja bersama-sama dengan dan dibiayai oleh auditinya.<\/p>\n<p>Walaupun pada hakikatnya (in fact) auditor tetap memelihara independensinya, kedekatan dalam penampilan itu dapat merusak citra independensinya di mata publik.<\/p>\n<p>Independensi tidak hanya dari sisi kelembagaan, tetapi juga dari sisi pekerjaan.<\/p>\n<p>Misalnya suatu Kantor Akuntan Publik menjadi konsultan pada suatu perusahaan atau membantu perusahaan menyusunkan laporan keuangannya.<\/p>\n<p>Terhadap perusahaan tersebut, Kantor Akuntan Publik yang bersangkutan tidak boleh memberikan jasa audit.<\/p>\n<h3>3. Cermat dan Seksama<\/h3>\n<p>Dalam melaksanakan tugasnya, auditor harus:<\/p>\n<ul>\n<li>Menggunakan keahliannya dengan cermat (due professional care)<\/li>\n<li>Direncanakan dengan baik<\/li>\n<li>Menggunakan pendekatan yang sesuai<\/li>\n<li>Memberikan pendapat berdasarkan bukti yang cukup dan ditelaah secara mendalam<\/li>\n<\/ul>\n<p>Di samping itu, institusi audit juga harus memastikan hal-hal berikut ini berjalan lancar, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>Melakukan pengendalian mutu yang memadai<\/li>\n<li>Organisasinya ditata dengan baik<\/li>\n<li>Terhadap sumber daya manusia (SDM) yang digunakan dilakukan pembinaan<\/li>\n<li>SDM diikutsertakan dalam pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan<\/li>\n<li>Pelaksanaan kegiatannya disupervisi dengan baik<\/li>\n<li>Hasil pekerjaannya di-review secara memadai<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kecermatan merupakan hal yang mutlak harus diterapkan auditor dalam pelaksanaan tugasnya.<\/p>\n<p>Karena hasil audit yang dilakukan akan berpengaruh pada sikap orang yang akan menyandarkan keputusannya pada hasil audit yang dilakukannya.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, auditor harus mempertimbangkan bahwa suatu saat dia harus mempertanggungjawabkan hasil auditnya.<\/p>\n<p>Bahkan termasuk apabila dia tidak dapat menemukan kesalahan yang sebenarnya telah terjadi dalam laporan yang diauditnya, namun tidak berhasil mengungkapkannya.<\/p>\n<h2>Prinsip Etika Dasar Profesi Auditor<\/h2>\n<p>Adapun 5 prinsip etika ketika menjadi seorang auditor, yaitu:<\/p>\n<h3>1. Integritas<\/h3>\n<p>Menjadi seorang auditor harus bersikap jujur, adil, dan benar ketika sedang melakukan proses audit.<\/p>\n<p>Auditor yang benar, harus mampu untuk memberikan penilaian yang baik, dapat dipercaya, dan mampu untuk mentaati hukum yang berlaku.<\/p>\n<h3>2. Objektivitas<\/h3>\n<p>Sebagai seorang auditor harus bersikap netral ketika menjalankan proses audit, interpretasi bukti audit, dan laporan keuangan yang sudah ditelaah bersama.<\/p>\n<p>Penilaian yang dihasilkan oleh seorang auditor harus bersifat objektif tanpa adanya kaitan dengan masalah pribadi.<\/p>\n<h3>3. Kompetensi Profesional dan Kecermatan<\/h3>\n<p>Memiliki pengetahuan, keterampilan, dan bersikap profesional wajib dimiliki oleh seorang auditor.<\/p>\n<p>Setiap auditor harus selalu meningkatkan pelayanannya dengan pengetahuan dan keterampilan yang auditor miliki.<\/p>\n<h3>4. Kerahasiaan<\/h3>\n<p>Menjaga kerahasiaan informasi ataupun yang berhubungan dengan klien harus dijaga oleh seorang auditor.<\/p>\n<p>Auditor sangat dilarang untuk memberikan informasi tanpa izin dari klien.<\/p>\n<p>Selain itu, auditor harus memiliki kehati-hatian dalam menjaga informasi organisasi untuk kepentingan pribadi.<\/p>\n<h3>5. Profesional<\/h3>\n<p>Sebagai seorang auditor harus bisa menahan diri untuk melakukan tindakan yang dapat merusak citra profesi.<\/p>\n<p>Contohnya, seperti lalai dalam proses menjalankan tugas, merendahkan pihak lain, membandingkan klien satu dan yang lainnya.<\/p>\n<h2>Keuntungan Menjadi Seorang Auditor<\/h2>\n<p>Meski memiliki risiko profesi yang tak sepele, menjadi auditor tentunya juga memiliki keuntungan yang menarik.<\/p>\n<p>Bukannya ada yang bilang, semakin besar risiko pekerjaan seseorang, maka penghasilan yang didapatkan juga akan setimpal dengan nilai risikonya.<\/p>\n<p>Kondisi ini juga berlaku pada profesi auditor.<\/p>\n<p>Setidaknya, ketika Anda menjadi seorang auditor, Anda akan mendapat beberapa keuntungan sebagai berikut ini, antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Banyak perusahaan atau badan sertifikasi yang dapat menggunakan jasa Anda dalam melakukan proses audit<\/li>\n<li>Anda bisa memberikan jasa konsultasi mengenai ISO kepada perusahaan atau organisasi yang membutuhkan<\/li>\n<li>Sebagai seorang auditor memiliki penghasilan yang cukup tinggi karena dibayar setiap melakukan audit<\/li>\n<\/ul>\n<h2>Kesimpulan<\/h2>\n<p>Secara umum audit dapat diartikan sebagai aktivitas pengumpulan dan pengujian data, yang dilakukan oleh pihak yang kompeten dan independen.<\/p>\n<p>Hal ini bertujuan dalam rangka menentukan kesesuaian informasi yang diaudit dengan standar atau kriteria yang telah ditetapkan, untuk disampaikan kepada para pihak yang berkepentingan.<\/p>\n<p>Kegiatan audit tersebut dapat dilakukan oleh auditor eksternal dan internal.<\/p>\n<p>Audit internal sektor publik adalah audit yang dilakukan auditor internal organisasi atau lembaga yang bergerak di bidang penyediaan barang dan jasa publik (public goods and services).<\/p>\n<p>Sebenarnya peran auditor internal tidak hanya semata-mata sebagai auditor, untuk meningkatkan nilai tambah keberadaannya, auditor internal dapat pula berperan sebagai konsultan di badan atau lembaga auditinya.<\/p>\n<p>Namun peran tersebut tidak boleh mengurangi independensinya terhadap auditinya tersebut.<\/p>\n<p>Untuk mendapat hasil audit yang baik maka orang yang menjadi auditor internal harus memenuhi berbagai persyaratan, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li>Memiliki kompetensi (memiliki keahlian di bidang auditing dan mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai bidang yang diauditnya)<\/li>\n<li>Independen terhadap auditi, baik dalam kenyataan (in fact) dan dalam penampilan (in appearance)<\/li>\n<li>Serta cermat dalam melaksanakan tugasnya<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Standar Profesi Auditor merupakan ketentuan yang harus dipenuhi untuk menjaga kualitas kinerja Auditor dan hasil auditnya. Standar audit sangat menekankan kualitas profesional auditor [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":43,"featured_media":4343,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[360],"tags":[338,341,342,98],"views":38266,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4342"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/43"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4342"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4342\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4343"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4342"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4342"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4342"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}