{"id":21636,"date":"2022-03-14T14:44:00","date_gmt":"2022-03-14T07:44:00","guid":{"rendered":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/?p=21636"},"modified":"2022-03-14T14:44:00","modified_gmt":"2022-03-14T07:44:00","slug":"strategi-zara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/strategi-zara\/","title":{"rendered":"Strategi Zara Raup Untung Triliunan Rupiah Tanpa Iklan"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter wp-image-21637 size-fusion-600\" src=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/ZARA-600x353.png\" data-orig-src=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/ZARA-600x353.png\" alt=\"strategi penjualan Zara\" width=\"600\" height=\"353\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27600%27%20height%3D%27353%27%20viewBox%3D%270%200%20600%20353%27%3E%3Crect%20width%3D%27600%27%20height%3D%27353%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/ZARA-200x118.png 200w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/ZARA-300x176.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/ZARA-400x235.png 400w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/ZARA-600x353.png 600w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/ZARA-768x451.png 768w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/ZARA-800x470.png 800w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/ZARA.png 1004w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/p>\n<p>Berbicara tentang dunia fashion, Anda pasti sudah tidak asing dengan brand ternama <strong>Zara<\/strong>, bukan?<\/p>\n<p>Kepopuleran Zara dibarengi dengan kepiawaiannya menciptakan kesan produk yang eksklusif.<\/p>\n<p>Banyak orang yang enggan mengenakan pakaian yang serupa ketika berada di khalayak umum. Inilah yang menjadi daya tarik produk yang dihasilkan Zara.<\/p>\n<p>Di sisi lain, ternyata Zara tidak memaksimalkan metode periklanan. Tetapi, pendapatan yang diperoleh bisa mencapai triliunan.<\/p>\n<p>Lantas, bagaimana strategi Zara untuk meraup keuntungan? Yuk ikuti cerita selengkapnya berikut ini!<\/p>\n<h2>Tentang Zara<\/h2>\n<p>Sudah menjadi rahasia umum bahwa Zara adalah salah satu brand fashion tersukses di dunia.<\/p>\n<p>Ada berbagai produk yang ditawarkan mulai dari pakaian, sepatu, dan aksesori untuk berbagai kalangan wanita, pria, hingga anak-anak.<\/p>\n<p>Toko pertama Zara didirikan pada tahun 1975 oleh <strong>Amancio Ortega<\/strong> dan <strong>Rosalia Mera<\/strong> di kota <strong>Galicia<\/strong>, <strong>Spanyol<\/strong>.<\/p>\n<p>Kini, Zara telah memiliki lebih dari 2.000 toko yang tersebar di 96 negara.<\/p>\n<p>Zara juga menjadi penyumbang revenue terbanyak untuk Inditex group yang merupakan flagship storenya.<\/p>\n<p>Laba yang diperoleh Zara pada Q2 2021 mencapai Rp14,3 triliun. Atau naik sebanyak Rp3,6 triliun dibandingkan periode Q2 2020.<\/p>\n<p>Hebatnya, dalam memperoleh pencapaian tersebut, Zara sangat efektif dalam meminimalkan pengeluaran untuk anggaran iklan.<\/p>\n<p>Diketahui bahwa Zara hanya menghabiskan 0,3% dari penjualan untuk biaya periklanan.<\/p>\n<h2>Strategi Zara Mencapai Kesuksesan Penjualan<\/h2>\n<p>Tentu saja, ada berbagai strategi jitu yang perusahaan terapkan untuk memaksimalkan pendapatan meskipun tanpa beriklan.<\/p>\n<p>Dua strategi yang dikedepankan adalah dengan menciptakan produk limited edition dan selalu melibatkan pelanggan.<\/p>\n<p>Selengkapnya inilah strategi marketing brilian yang diterapkan Zara:<\/p>\n<h3>1. Menciptakan Produk Terbatas (limited edition)<\/h3>\n<p>Semakin sedikit persediannya, maka semakin tinggi pula hasrat setiap orang untuk memilikinya. Terlebih dalam dunia fashion, kesan eksklusif merupakan daya tarik utama.<\/p>\n<p>Alih-alih memproduksi satu desain dengan kuantitas yang banyak, Zara lebih memilih untuk melakukan hal sebaliknya.<\/p>\n<p>Zara mampu menciptakan 12 ribu desain dengan jumlah terbatas dalam satu tahun.<\/p>\n<p>Tak hanya itu, brand ternama ini juga hanya memajang koleksi terbaru mereka selama 1-2 minggu. Cara ini efektif untuk membuat para pelanggan terus berkunjung ke toko karena takut kehabisan stok.<\/p>\n<p>Inilah yang menjadi kunci dalam strategi pemasaran perusahaan.<\/p>\n<h3>2. Fokus pada Pelanggan dengan Co-Creation<\/h3>\n<p><strong>Co-creation<\/strong> merupakan strategi kolaborasi yang melibatkan pelanggan dalam menciptakan sebuah produk. Ada kisah unik yang membuktikan bahwa pelanggan adalah bagian terpenting dari perusahaan.<\/p>\n<p>Tepatnya pada tahun 2015, ada seorang wanita bernama Miko yang berkunjung ke salah satu toko Zara di Tokyo.<\/p>\n<p>Dia menanyakan tentang syal merah muda, namun sayangnya tidak tersedia di toko tersebut.<\/p>\n<p>Ternyata, hal serupa juga terjadi hampir bersamaan dengan Michelle di Toronto, Elaine di San Fransisco, dan Giselle di Frankfurt. Mereka juga menanyakan tentang ketersediaan produk yang sama.<\/p>\n<p>Tidak butuh waktu lama, Zara langsung mengeluarkan produk terbaru mereka berupa syal merah muda. Produk ini tersedia sebanyak 500.000 buah yang dipasarkan secara global.<\/p>\n<p>Hasilnya sungguh menakjubkan, seluruh produk habis hanya dalam kurun waktu 3 hari saja.<\/p>\n<h2>Pelajaran Berharga dari Strategi Marketing Zara<\/h2>\n<p>Strategi Zara dalam menciptakan produk yang terbatas serta menjadikan pelanggan sebagai prioritas, mampu menghadirkan loyalitas.<\/p>\n<p>Tentu saja, dengan loyalitas pelanggan, maka tak hanya citra brand tersebut saja yang semakin meyakinkan.<\/p>\n<p>Namun, juga akan berdampak nyata pada pendapatan dan keuntungan perusahaan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbicara tentang dunia fashion, Anda pasti sudah tidak asing dengan brand ternama Zara, bukan? Kepopuleran Zara dibarengi dengan kepiawaiannya menciptakan kesan produk yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":100,"featured_media":21637,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"views":1171,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21636"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/100"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=21636"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/21636\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21637"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=21636"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=21636"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=21636"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}