{"id":20111,"date":"2021-07-15T19:58:02","date_gmt":"2021-07-15T12:58:02","guid":{"rendered":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/?p=20111"},"modified":"2022-10-17T15:30:23","modified_gmt":"2022-10-17T08:30:23","slug":"biaya-overhead-pabrik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/biaya-overhead-pabrik\/","title":{"rendered":"Biaya Overhead Pabrik: Pengertian dan Contohnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Dalam penghitungan serta pembukuan akuntansi, seluruh atau beban dalam operasional bisnis harus dicatat dengan baik, salah satunya terkait biaya overhead pabrik.<\/span><\/span><\/p>\n<p>Lantas apa itu biaya overhead pabrik dan seperti apa contohnya? Tulisan ini akan menjawab secara detail.<\/p>\n<h2><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pengertian Biaya Overhead Pabrik<\/span><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Biaya Overhead Pabrik atau BOP adalah biaya bahan penolong, biaya tenaga kerja tidak langsung serta semua biaya produksi lainnya yang tidak dapat diidentifikasikan dengan mudah dibebankan secara langsung pada pesanan tertentu atau produk tertentu.<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Penggolongan Biaya Overhead Pabrik (BOP)<\/span><\/span><\/h2>\n<h3><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">1. Menurut Jenisnya:<\/span><\/span><\/h3>\n<ol>\n<li><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Biaya bahan penolong<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Biaya tenaga kerja tidak langsung<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Biaya reparasi dan pemeliharaan<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Biaya mengaktifkan<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Biaya asuransi<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Biaya Listrik<\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n<h3><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">2. Menurut Perilakunya Dalam Hubungan Perubahan Volume Kegiatan <\/span><\/span><\/h3>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">1. BOP Tetap<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Biaya overhead yang tetap konstan dalam perubahan volume kegiatan tertentu.<\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">2. BOP Variabel<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Biaya overhead yang jumlah totalnya berubah secara proporsional dengan perubahan volume kegiatan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><strong><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">3. BOP Semi variabel<\/span><\/span><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Biaya overhead yang jumlah totalnya berubah tidak proporsional dengan perubahan volume kegiatan.<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pembebanan Tarif Biaya Overhead Pabrik<\/span><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Pembebanan BOP secara langsung tidak bisa dilangsungkan dikarenakan:\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<ol>\n<li><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">BOP mencakup seluruh jenis biaya produksi tidak langsung yang memiliki sifat yang sangat bervariasi dan jumlahnya tidak pasti. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit;\">Misalnya: biaya reparasi dan pemeliharaan.<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Volume kegiatan produksi dari waktu ke waktu tidak stabil. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit;\">Sehingga pembebanan BOP berdasarkan tarif yang ditentukan dimuka (tarif yang telah ditentukan) agar dapat membebankan BOP pada setiap pesanan secara adil<\/span><\/span><\/li>\n<\/ol>\n<h2><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Langkah-langkah Pembebanan Tarif BOP<\/span><\/span><\/h2>\n<h3>1. Menyusun anggaran BOP<\/h3>\n<p>Disusun berdasarkan tingkat Volume kegiatan pada masa yang aakan datang<\/p>\n<h3>2. Memilih dan menaksir dasar pembebanan BOP<\/h3>\n<ol>\n<li>Satuan produk<\/li>\n<li>Biaya bahan baku<\/li>\n<li>Jam tenaga kerja langsung<\/li>\n<li>Biaya tenaga kerja langsung<\/li>\n<li>Jam mesin<\/li>\n<\/ol>\n<h3>3. Menghitung Tarif BOP<\/h3>\n<p>Biasanya biaya overhead pabrik dibagi berdasarkan bulan, lalu dibagi total dengan semua <a href=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/4-kiat-meningkatkan-omset-penjualan\/\">penjualan<\/a> bulanan.<\/p>\n<h2>Faktor Memilih Dasar Pembebanan BOP<\/h2>\n<ol>\n<li>Jika BOP didominasi oleh elemen biaya yang berhubungan dengan biaya bahan (misal: sewa gudang, asuransi gudang, biaya bahan penolong), maka dasar pembebanan lebih dekat dengan Harga Pokok Bahan.<\/li>\n<li>Jika BOP didominasi oleh elemen biaya yang berhubungan dengan biaya tenaga kerja (misal gaji pengawas, BTKL), maka dasar pembebanan lebih dekat dengan Biaya Tenaga Kerja Langsung atau Jam Kerja Langsung.<\/li>\n<li>Jika BOP didominasi oleh elemen biaya yang berhubungan penyelenggaraan fasilitas pabrik (misalnya: b. reparasi dan pemeliharaan, asuransi mesin, penyusutan mesin), maka dasar pembebanan BOP adalah Jam mesin.<\/li>\n<li>Jika BOP relatif merata pada elemen biaya yang berhubungan dengan biaya bahan, biaya tenaga kerja atau biaya penyelenggaraan fasilitas pabrik, maka dasar pembebanan lebih dekat dengan Jumlah Satuan Produk.<\/li>\n<\/ol>\n<h2>Menentukan Tarif Biaya Overhead Pabrik<\/h2>\n<p>Dinyatakan dengan % atau jumlah Rp\/jam kerja langsung, jam mesin, kg, satuan produk.<\/p>\n<h3>1. Berdasar Jumlah Satuan Produk<\/h3>\n<p>BOP Per satuan = Anggaran BOP dalam satu periode : Jumlah satuan produk yg dianggarkan<\/p>\n<p>Misalkan :<\/p>\n<p>Anggaran BOP untuk periode yang ada = Rp600.000,00 dan perusahaan merencanakan memproduksi 250.000 per satuan produk,maka untuk setiap satuan produk dibebani BOP dengan tarif Rp2,4 (Rp600.000,00 : 250.000).<\/p>\n<h3>2. Berdasar Harga Bahan Pokok<\/h3>\n<p>% BOP dari BB = Anggaran BOP dalam suatu periode x 100 % : Anggaran harga pokok BB dalam periode yang akan datang.<\/p>\n<p>Contoh Kasus :<\/p>\n<p>Jika anggaran BOP sebesar Rp600.000,00 dan anggaran harga pokok bahan baku yang diperlukan untuk proses produksi Rp250.000,00 dalam suatu periode tertentu, maka tarif pembebanan biaya overhead pabrik kepada produk dihitung sebagai berikut:<\/p>\n<p>Rp600.000,00 x 100 % : Rp250.000 = 240 %<\/p>\n<p>Setiap produk yang selesai dibuat dibebani BOP sebesar 120%<\/p>\n<h3>3. Berdasar Biaya Tenaga Kerja Langsung<\/h3>\n<p>% BOP dari BTKL = Anggaran BOP dalam suatu periode x 100 % : Anggaran biaya tenaga kerja langsung<\/p>\n<p>Contoh :<\/p>\n<p>Untuk tahun yang akan datang anggaran BOP Rp600.000,00 dan biaya tenaga kerja langsung Rp600.000,00.<\/p>\n<p>Tarif BOP adalah : Rp600.000,00 : Rp600.000,00 x 100 % = 100 %<\/p>\n<p>Setiap pesanan\/Produk yang menyerap biaya tenaga kerja sebesar Rp1,00 akan dibebani BOP Rp1,00 pula.<\/p>\n<h3>4. Berdasar Jam Tenaga Kerja Langsung<\/h3>\n<p>Tarif BOP per jam kerja langsung =\u00a0Anggaran Biaya Overhead pabrik dlm suatu periode : Taksiran jam tenaga kerja langsung<\/p>\n<p>Contoh:<\/p>\n<p>Apabila anggaran BOP untuk tahun yg akan datang Rp600.000,00 dan jumlah jam kerja langsung ditaksir 250.000 jam, maka tarif BOP atas dasar jam kerja langsung adalah Rp1,5 per jam kerja langsung :<\/p>\n<p>Rp600.000,00 : 250.000 = Rp2.4 \/jam<\/p>\n<p>Suatu pekerjaan yang diselesaikan dengan 250 jam kerja langsung akan dibebani biaya overhead pabrik sebesar Rp600,00 (=250 x Rp 2.4).<\/p>\n<h3>5. Berdasar Jam Mesin<\/h3>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Tarif per jam mesin = Anggaran BOP dalam : suatu periode Taksiran mesin<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Contoh:<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Bila anggaran BOP untuk tahun yang akan datang Rp600.000,00 dan jumlah jam mesin ditaksir 600.000 jam, maka tarif BOP atas dasar jam kerja langsung adalah Rp1,00\/jam kerja langsung.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Rp600.000,00 : Rp<\/span><span style=\"vertical-align: inherit;\">600.000,00 x 100 % = 100 %\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Suatu pekerjaan atau pesanan yang diselesaikan dengan 600 jam mesin akan dibebani BOP sebesar Rp600,00 (= 600 x Rp1.00).<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Kesimpulan<\/span><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"vertical-align: inherit;\"><span style=\"vertical-align: inherit;\">Itulah pembahasan mengenai biaya overhead pabrik serta bagaimana cara penghitungannya. <\/span><span style=\"vertical-align: inherit;\">Dengan mempelajari biaya ini, maka akan lebih mudah untuk menentukan harga serta mengawasi pertandingan perusahaan akan jauh lebih mudah untuk dilakukan.<\/span><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam penghitungan serta pembukuan akuntansi, seluruh atau beban dalam operasional bisnis harus dicatat dengan baik, salah satunya terkait biaya overhead pabrik. Lantas apa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":92,"featured_media":21915,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[75],"tags":[],"views":32808,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20111"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/92"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=20111"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/20111\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/21915"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=20111"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=20111"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=20111"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}