{"id":19806,"date":"2021-07-01T21:52:50","date_gmt":"2021-07-01T14:52:50","guid":{"rendered":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/?p=19806"},"modified":"2021-07-01T21:53:19","modified_gmt":"2021-07-01T14:53:19","slug":"hard-selling-soft-selling","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/hard-selling-soft-selling\/","title":{"rendered":"Perbedaan Hard Selling dan Soft Selling yang Wajib Diketahui"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter wp-image-19818 size-full\" src=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/hard-selling-soft-selling.jpg\" data-orig-src=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/hard-selling-soft-selling.jpg\" alt=\"hard selling vs soft selling\" width=\"600\" height=\"300\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27600%27%20height%3D%27300%27%20viewBox%3D%270%200%20600%20300%27%3E%3Crect%20width%3D%27600%27%20height%3D%27300%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/hard-selling-soft-selling-200x100.jpg 200w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/hard-selling-soft-selling-300x150.jpg 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/hard-selling-soft-selling-400x200.jpg 400w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/hard-selling-soft-selling.jpg 600w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 600px) 100vw, 600px\" \/><\/p>\n<p>Apa itu hard selling dan soft selling? Anda mungkin sering mendengar dua istilah tersebut, tapi bisa jadi masih bingung dengan maksud dari keduanya.<\/p>\n<p>Artikel ini akan mengupas tuntas soal istilah hard selling dan soft selling dalam penjualan suatu produk.<\/p>\n<p>Pada dasarnya, hard selling dan soft selling adalah sebutan untuk metode promosi dan penjualan produk baik barang maupun jasa.<\/p>\n<h2>Apa Itu Hard Selling dan Soft Selling?<\/h2>\n<p>Hard selling adalah metode pemasaran secara gamblang alias terbuka.<\/p>\n<p>Metode pemasaran hard selling identik dengan terburu-buru. Maksudnya, melalui metode ini, calon konsumen ditargetkan untuk segera membeli produk yang ditawarkan.<\/p>\n<p>Dalam dunia pemasaran, metode hard selling dikenal sebagai metode yang agresif, sebab cara memasarkan produk pada calon konsumen langsung to the point alias tanpa banyak basa-basi.<\/p>\n<p>Sementara itu,\u00a0soft selling merupakan metode pemasaran yang lebih santai.\u00a0Calon konsumen tidak ditargetkan untuk terburu-buru membeli produk yang ditawarkan.<\/p>\n<p>Metode pemasaran soft selling biasanya identik dengan teka-teki. Calon konsumen dibuat penasaran dengan produk yang dijual.<\/p>\n<p>Sehingga, secara sendirinya mereka akan mencari tahu apa kelebihan produk tersebut dan mengapa mereka harus memilikinya.<\/p>\n<p>Setelah mengetahui perbedaan metode pemasaran di atas, apa metode yang seharusnya digunakan untuk produk yang Anda miliki?<\/p>\n<h2>Perbedaan antara Hard Selling dan Soft Selling<\/h2>\n<p>Agar lebih mudah dipahami, berikut detail perbedaan antara keduanya.<\/p>\n<h3>Hard Selling<\/h3>\n<p>Baik metode hard selling maupun metode soft selling, keduanya terbukti bisa mendatangkan konsumen dan menguntungkan perusahaan.<\/p>\n<p>Namun, ada situasi tertentu di mana hard selling cocok digunakan atau justru tidak cocok digunakan, begitu juga dengan metode soft selling.<\/p>\n<p>Lantas, kapan Anda bisa menggunakan metode pemasaran secara hard selling?<\/p>\n<p>Promosi secara hard selling tidak selalu dilakukan secara langsung melalui tenaga sales pada konsumen secara empat mata.<\/p>\n<p>Metode ini bisa dipakai menggunakan berbagai media seperti iklan di website yang memiliki banyak pengunjung, promosi langsung kepada konsumen melalui email, atau bahkan negosiasi.<\/p>\n<p><span style=\"text-decoration: underline;\">Hard selling<\/span> dinilai sebagai metode pemasaran yang lebih tradisional. Metode ini dikenal cukup meresahkan, namun di sisi lain metode ini juga dianggap berhasil mendatangkan banyak konsumen.<\/p>\n<p>Hard selling sebenarnya lebih cocok digunakan pada produk yang dijual dengan harga rendah. Maksudnya produk tersebut bisa dijangkau oleh semua kalangan.<\/p>\n<p>Biasanya, peluang konsumen &#8216;mengiyakan&#8217; untuk membeli produk lebih tinggi karena harganya terjangkau.<\/p>\n<p>Catatan untuk Anda yang ingin menggunakan metode pemasaran hard selling, jangan sekali-kali memaksa konsumen membeli produk Anda.<\/p>\n<p>Paksaan akan membuat nama merek produk terlihat buruk di mata konsumen. Hal ini bisa jadi masalah besar jika terus dilakukan secara berulang.<\/p>\n<p>Pastikan semua produk yang telah dibeli oleh konsumen akan memberikan imbalan yang baik bagi perusahaan Anda, salah satunya berupa feedback komentar yang baik dan testimoni yang bagus.<\/p>\n<h3>Soft Selling<\/h3>\n<p>Di era digital, metode pemasaran soft selling nyatanya lebih populer dan banyak mendatangkan konsumen.<\/p>\n<p>Sebagian konsumen menilai penjualan secara soft selling sebagai metode yang kreatif, cerdas, dan efektif dibanding metode hard selling.<\/p>\n<p>Biasanya, metode soft selling digunakan oleh produk yang memiliki pasar yang luas.<\/p>\n<p>Metode penjualan ini cocok digunakan oleh produk yang mereknya sudah tidak asing di telinga masyarakat.<\/p>\n<p>Soft selling akan berjalan lancar jika masyarakat mendukung, maksudnya &#8216;menyadari&#8217; bahwa perusahaan pemilik produk tersebut sedang berusaha melakukan penjualan dengan cara berbeda.<\/p>\n<p>Jika produk yang Anda jual adalah produk yang dibutuhkan untuk menunjang kehidupan masyarakat, maka metode penjualan soft selling cocok untuk digunakan.<\/p>\n<p>Soft selling menyasar konsumen yang loyal dan setia pada produk-produk Anda. Contoh produk yang cocok menggunakan metode soft selling dalam pemasaran adalah Apple.<\/p>\n<p>Nama merek sudah dikenal dan produk yang dikeluarkan oleh Apple sendiri mampu menunjang kebutuhan hidup masyarakat, terutama dalam bekerja maupun belajar.<\/p>\n<p>Perlu diperhatikan bahwa metode soft selling tidak cocok digunakan pada perusahaan yang ingin segera mendapatkan keuntungan.<\/p>\n<p>Sebab, metode pemasaran soft selling membutuhkan waktu lebih lama daripada hard selling dalam hal mengikat calon konsumen.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa itu hard selling dan soft selling? Anda mungkin sering mendengar dua istilah tersebut, tapi bisa jadi masih bingung dengan maksud dari keduanya. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":97,"featured_media":19818,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[2227],"tags":[],"views":257,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19806"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/97"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19806"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19806\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19818"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19806"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19806"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19806"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}