{"id":13827,"date":"2021-10-22T09:10:56","date_gmt":"2021-10-22T02:10:56","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.zahiraccounting.com\/?p=13827"},"modified":"2022-10-17T15:21:04","modified_gmt":"2022-10-17T08:21:04","slug":"ratio-keuangan-arti-jenis-dan-rumusnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/ratio-keuangan-arti-jenis-dan-rumusnya\/","title":{"rendered":"Rasio Keuangan: Pengertian, Jenis dan Rumusnya"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13965\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Ratio-Keuangan.png\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Ratio Keuangan\" width=\"903\" height=\"302\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27903%27%20height%3D%27302%27%20viewBox%3D%270%200%20903%20302%27%3E%3Crect%20width%3D%27903%27%20height%3D%27302%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Ratio-Keuangan-300x100.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Ratio-Keuangan-768x257.png 768w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Ratio-Keuangan.png 903w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 903px) 100vw, 903px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Rasio keuangan atau rasio keuangan atau rasio finansial memiliki peranan penting dalam menjalankan bisnis atau usaha.<\/p>\n<p>Setiap pimpinan suatu perusahaan sudah seharusnya memahami pentingnya menganalisa ratio keuangan ini karena akan membantu pimpinan perusahaan dalam menentukan kebijakan dalam menjalankan perusahaan.<\/p>\n<h2>Pengertian Rasio Keuangan<\/h2>\n<p>Ratio keuangan atau rasio keuangan atau rasio finansial merupakan suatu alat dalam menganalisa dan mengukur kinerja perusahaan dengan menggunakan parameter kondisi atau data keuangan perusahaan tersebut.<\/p>\n<p>Data-data keuangan tersebut biasanya diambil dari laporan keuangan yang ada seperti neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dll.<\/p>\n<h2>Jenis-jenis Rasio Keuangan<\/h2>\n<p>Berdasarkan fungsi atau penggunaannya, rasio keuangan kemudian dibagi menjadi beberapa jenis. Oleh karena itu, secara umum ratio keuangan dibagi menjadi 4 (empat) jenis.<\/p>\n<p>Berikut detail penjelasan terkait jenis-jenis rasio keuangan, yaitu:<\/p>\n<h3>1. Ratio Profitabilitas (<em>Profitability Ratio<\/em>)<\/h3>\n<p>Ratio profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan untuk perusahaan.<\/p>\n<p>Rasio profitabilitas dianggap memiliki peranan yang krusial bagi kelangsungan perusahaan karena &#8220;urat nadi&#8221; suatu perusahaan akan bergantung dari sejauh mana perusahaan bisa mendapatkan keuntungan.<\/p>\n<h3>2. Ratio Likuiditas (<em>Liquidity Ratio<\/em>)<\/h3>\n<p>Ratio likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar atau melunasi utang \u00a0atau kewajiban dalam skala jangka pendek yang harus segera dipenuhi.<\/p>\n<h3>3. Ratio Solvabilitas (<em>Solvency Ratio<\/em>)<\/h3>\n<p>Ratio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi semua kewajibannya, baik kewajiban jangka panjang maupun jangka pendek, utamanya apabila disaat perusahaan yang bersangkutan harus dilikuidasi.<\/p>\n<h3>4. Ratio Aktivitas (<em>Activity Ratio<\/em>)<\/h3>\n<p>Rasio aktivitas digunakan untuk mengukur keefektifan atau efisiensi perusahaan dalam menggunakan aktiva &#8211; aktiva yang dimilikinya.<\/p>\n\n<h2>Rumus Rasio Keuangan<\/h2>\n<p>Dari 4 jenis ratio yang telah disebutkan di atas, masing-masing memiliki rumusan dalam menghitung atau mengukurnya yang akan dijabarkan berikut ini :<\/p>\n<h3>Ratio Profitabilitas<\/h3>\n<p>Berikut ini beberapa ukuran ratio profitabilitas yang digunakan, di antaranya adalah :<\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">1. Margin Laba Kotor (Gross Profit Margin)<\/span><\/h4>\n<p>Membandingkan Laba Kotor dengan Penjualan. Semakin besar persentase atau rasionya,\u00a0artinya semakin baik kondisi keuangan perusahaan.<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Gross-Profit-Margin-Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload size-full wp-image-13840 aligncenter\" src=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27238%27%20height%3D%2765%27%20viewBox%3D%270%200%20238%2065%27%3E%3Crect%20width%3D%27238%27%20height%3D%2765%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Gross-Profit-Margin-Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Gross Profit Margin - Ratio Keuangan\" width=\"238\" height=\"65\" \/><br \/>\n<\/a><\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">2. Margin Laba Operasi (Operating Profit Margin)<\/span><\/h4>\n<p>Ukuran dari Laba\u00a0yang telah dikurangi dengan semua biaya dan pengeluaran kecuali bunga dan pajak, dibagi dengan Pendapatan.<\/p>\n<p>Hasil dari perhitungan tersebut\u00a0merupakan gambaran laba bersih sebelum bunga dan pajak yang didapat dari setiap rupiah penjualan atau pendapatan.<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Operating-Profit-Margin.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13841\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Operating-Profit-Margin.png\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Operating-Profit-Margin.png\" alt=\"Operating Profit Margin - Ratio Keuangan\" width=\"390\" height=\"72\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27390%27%20height%3D%2772%27%20viewBox%3D%270%200%20390%2072%27%3E%3Crect%20width%3D%27390%27%20height%3D%2772%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Operating-Profit-Margin-300x55.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Operating-Profit-Margin.png 390w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 390px) 100vw, 390px\" \/><\/a><\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">3. Margin Laba Bersih (Net Profit Margin)<\/span><\/h4>\n<p>Digunakan untuk mengukur persentase atau rasio laba bersih setelah dikurangi bunga dan pajak yang dihasilkan dari setiap rupiah penjualan atau pendapatan.<\/p>\n<p>Semakin tinggi rasionya berarti semakin baik perusahaan dalam menghasilkan laba.<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Nett-Profit-Margin-Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13842\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Nett-Profit-Margin-Ratio-Keuangan.png\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Nett-Profit-Margin-Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Nett Profit Margin - Ratio Keuangan\" width=\"390\" height=\"72\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27390%27%20height%3D%2772%27%20viewBox%3D%270%200%20390%2072%27%3E%3Crect%20width%3D%27390%27%20height%3D%2772%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Nett-Profit-Margin-Ratio-Keuangan-300x55.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Nett-Profit-Margin-Ratio-Keuangan.png 390w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 390px) 100vw, 390px\" \/><\/a><\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">4. Return On Assets (ROA)<\/span><\/h4>\n<p>Digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva atau asset yang dimilikinya.<\/p>\n<p>Laba yang dihitung adalah laba sebelum bunga dan pajak atau EBIT (Earning Before Interest and Tax).<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Return-On-Assset-Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13843\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Return-On-Assset-Ratio-Keuangan.png\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Return-On-Assset-Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Return On Asset - Ratio Keuangan\" width=\"390\" height=\"72\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27390%27%20height%3D%2772%27%20viewBox%3D%270%200%20390%2072%27%3E%3Crect%20width%3D%27390%27%20height%3D%2772%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Return-On-Assset-Ratio-Keuangan-300x55.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Return-On-Assset-Ratio-Keuangan.png 390w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 390px) 100vw, 390px\" \/><\/a><\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">5. Return On Investment (ROI)<\/span><\/h4>\n<p>Digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba terhadap investasi yang telah dikeluarkan.<\/p>\n<p>Laba yang digunakan adalah laba yang telah dikurangi pajak atau EAT ( Earning After Tax )<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Return-On-Investment-Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13844\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Return-On-Investment-Ratio-Keuangan.png\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Return-On-Investment-Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Return On Investment - Ratio Keuangan\" width=\"363\" height=\"73\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27363%27%20height%3D%2773%27%20viewBox%3D%270%200%20363%2073%27%3E%3Crect%20width%3D%27363%27%20height%3D%2773%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Return-On-Investment-Ratio-Keuangan-300x60.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Return-On-Investment-Ratio-Keuangan.png 363w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 363px) 100vw, 363px\" \/><\/a><\/p>\n<h3>Ratio Likuiditas<\/h3>\n<p>Berikut ini beberapa analisa dalam mengukur ratio likuiditas yang dapat digunakan, yaitu :<\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">1. Rasio Lancar (Current Ratio)<\/span><\/h4>\n<p>Digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menutup atau membayar kewajiban lancar dengan menggunakan aktiva lancarnya.<\/p>\n<p>Sebagai ilustrasi, apabila perbandingannya adalah 1:1 dimana artinya Current Ration-nya adalah 100%, berarti aktiva lancarnya memiliki jumlah yang sama banyak untuk melunasi semua kewajiban lancarnya.<\/p>\n<p>Semakin lebih besar dari 100% artinya semakin baik.<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Current-Ratio-Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13846\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Current-Ratio-Ratio-Keuangan.png\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Current-Ratio-Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Current Ratio - Ratio Keuangan\" width=\"336\" height=\"74\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27336%27%20height%3D%2774%27%20viewBox%3D%270%200%20336%2074%27%3E%3Crect%20width%3D%27336%27%20height%3D%2774%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Current-Ratio-Ratio-Keuangan-300x66.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Current-Ratio-Ratio-Keuangan.png 336w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 336px) 100vw, 336px\" \/><\/a><\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">2. Rasio Cepat (Quick Ratio)<\/span><\/h4>\n<p>Digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menutup atau membayar kewajiban lancar dengan menggunakan aktiva\u00a0lancar tanpa memasukan nilai persediaannya.<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Quick-Ratio-Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13847\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Quick-Ratio-Ratio-Keuangan.png\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Quick-Ratio-Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Quick Ratio - Ratio Keuangan\" width=\"349\" height=\"75\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27349%27%20height%3D%2775%27%20viewBox%3D%270%200%20349%2075%27%3E%3Crect%20width%3D%27349%27%20height%3D%2775%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Quick-Ratio-Ratio-Keuangan-300x64.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Quick-Ratio-Ratio-Keuangan.png 349w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 349px) 100vw, 349px\" \/><\/a><\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">3. Rasio Kas (Cash Ratio)<\/span><\/h4>\n<p>Digunakan untuk membandingkan antara kas dan aktiva lancar setara kas dengan kewajiban lancar. Yang dimaksud dengan aktiva lancar setara kas adalah aktiva yang dapat dengan mudah dan segera diuangkan.<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Cash-Ratio-Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13848\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Cash-Ratio-Ratio-Keuangan.png\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Cash-Ratio-Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Cash Ratio - Ratio Keuangan\" width=\"323\" height=\"76\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27323%27%20height%3D%2776%27%20viewBox%3D%270%200%20323%2076%27%3E%3Crect%20width%3D%27323%27%20height%3D%2776%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Cash-Ratio-Ratio-Keuangan-300x71.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Cash-Ratio-Ratio-Keuangan-320x76.png 320w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Cash-Ratio-Ratio-Keuangan.png 323w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 323px) 100vw, 323px\" \/><\/a><\/p>\n<h3>Ratio Solvabilitas<\/h3>\n<p>Berikut ini beberapa analisa dalam mengukur ratio solvabilitas yang dapat digunakan, yaitu :<\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">1. Rasio Hutang Terhadap Aktiva (Total Debt to Asset Ratio)<\/span><\/h4>\n<p>Digunakan untuk mengukur persentase besarnya dana yang berasal dari hutang, baik hutang jangka pendek maupun jangka panjang.<\/p>\n<p>Semakin rendah rasio ini artinya semakin baik bagi keuangan perusahaan, sebab keamanan dananya semakin baik.<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Debt-Ratio-Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13850\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Debt-Ratio-Ratio-Keuangan.png\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Debt-Ratio-Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Debt Ratio - Ratio Keuangan\" width=\"323\" height=\"76\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27323%27%20height%3D%2776%27%20viewBox%3D%270%200%20323%2076%27%3E%3Crect%20width%3D%27323%27%20height%3D%2776%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Debt-Ratio-Ratio-Keuangan-300x71.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Debt-Ratio-Ratio-Keuangan-320x76.png 320w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Debt-Ratio-Ratio-Keuangan.png 323w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 323px) 100vw, 323px\" \/><\/a><\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">2. Rasio Hutang Terhadap Ekuitas (Total Debt to Equity Ratio)<\/span><\/h4>\n<p>Digunakan untuk mengukur\u00a0hutang yang dimiliki dengan modal sendiri. Semakin kecil ratio ini maka akan semakin baik untuk perusahaan. Sebaiknya besarnya hutang tidak melebihi modal perusahaan itu sendiri.<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Debt-to-equity-ratio-Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13851\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Debt-to-equity-ratio-Ratio-Keuangan.png\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Debt-to-equity-ratio-Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Debt Ratio 2 - Ratio Keuangan\" width=\"323\" height=\"76\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27323%27%20height%3D%2776%27%20viewBox%3D%270%200%20323%2076%27%3E%3Crect%20width%3D%27323%27%20height%3D%2776%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Debt-to-equity-ratio-Ratio-Keuangan-300x71.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Debt-to-equity-ratio-Ratio-Keuangan-320x76.png 320w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Debt-to-equity-ratio-Ratio-Keuangan.png 323w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 323px) 100vw, 323px\" \/><\/a><\/p>\n<h3>Ratio Aktivitas<\/h3>\n<p>Berikut ini beberapa analisa dalam mengukur ratio aktivitas yang dapat digunakan, yaitu :<\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">1. Rasio Perputaran Piutang<\/span><\/h4>\n<p>Rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas pengelolaan piutang. Semakin tinggi perputarannya maka semakin baik pula bagi perusahaan.<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Piutang-Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13852\" src=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27294%27%20height%3D%2777%27%20viewBox%3D%270%200%20294%2077%27%3E%3Crect%20width%3D%27294%27%20height%3D%2777%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Piutang-Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Perputaran Piutang - Ratio Keuangan\" width=\"294\" height=\"77\" \/><\/a><\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">2. Rasio Perputaran Persediaan<\/span><\/h4>\n<p>Rasio ini digunakan untuk menggambarkan likuiditas perusahaan. Semakin tinggi rasio perputaran persediaan maka semakin baik pula pengelolaan persediaannya.<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Persediaan-Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13853\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Persediaan-Ratio-Keuangan.png\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Persediaan-Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Perputaran Persediaan - Ratio Keuangan\" width=\"343\" height=\"79\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27343%27%20height%3D%2779%27%20viewBox%3D%270%200%20343%2079%27%3E%3Crect%20width%3D%27343%27%20height%3D%2779%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Persediaan-Ratio-Keuangan-300x69.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Persediaan-Ratio-Keuangan.png 343w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 343px) 100vw, 343px\" \/><\/a><\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">3. Rasio Perputaran Aktiva Tetap<\/span><\/h4>\n<p>Rasio ini digunakan untuk melihat sejauh mana perusahaan dapat menghasilkan penjualan dengan aktiva tetap yang dimiliki. Semakin besar rasio maka semakin baik bagi perusahaan.<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Aktiva-Tetap-Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13854\" src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Aktiva-Tetap-Ratio-Keuangan.png\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Aktiva-Tetap-Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Perputaran Aktiva Tetap - Ratio Keuangan\" width=\"306\" height=\"80\" srcset=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27306%27%20height%3D%2780%27%20viewBox%3D%270%200%20306%2080%27%3E%3Crect%20width%3D%27306%27%20height%3D%2780%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-srcset=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Aktiva-Tetap-Ratio-Keuangan-300x78.png 300w, https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Aktiva-Tetap-Ratio-Keuangan.png 306w\" data-sizes=\"auto\" data-orig-sizes=\"(max-width: 306px) 100vw, 306px\" \/><\/a><\/p>\n<h4><span style=\"color: #3366ff;\">4. Rasio Perputaran Total Aktiva<\/span><\/h4>\n<p>Hampir sama dengan rasio perputaran aktiva tetap, hanya saja yang bedakan adalah pada perhitungan kali ini, yang dihitung adalah total aktiva yang dimiliki perusahaan.<a href=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Total-Aktiva-Ratio-Keuangan.png\"><img decoding=\"async\" class=\"lazyload aligncenter size-full wp-image-13855\" src=\"data:image\/svg+xml,%3Csvg%20xmlns%3D%27http%3A%2F%2Fwww.w3.org%2F2000%2Fsvg%27%20width%3D%27287%27%20height%3D%2781%27%20viewBox%3D%270%200%20287%2081%27%3E%3Crect%20width%3D%27287%27%20height%3D%2781%27%20fill-opacity%3D%220%22%2F%3E%3C%2Fsvg%3E\" data-orig-src=\"https:\/\/blog.zahiraccounting.com\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Perputaran-Total-Aktiva-Ratio-Keuangan.png\" alt=\"Perputaran Total Aktiva - Ratio Keuangan\" width=\"287\" height=\"81\" \/><\/a><\/p>\n<h2>Tujuan Analisis Rasio Keuangan<\/h2>\n<p>Dengan mempelajari analisis rasio keuangan, Anda dapat melihat bagaimana kondisi perusahaan Anda. Dari data ini, akan membantu Anda dalam manajemen bisnis.<\/p>\n<p>Analisis rasio keuangan dapat digunakan sebagai peta bagi Anda dalam mengelola bisnis. Bahkan dengan analisis ini akan membantu Anda dalam meminimalisir risiko bisnis.<\/p>\n<p>Dan berikut merupakan beberapa tujuan dari dilakukannya analisis rasio keuangan, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>Efektivitas manajemen dalam memperoleh laba operasi dari aset perusahaan.<\/li>\n<li>Pengembalian pemegang saham biasa.<\/li>\n<li>Jumlah likuiditas perusahaan.<\/li>\n<li>Terdapat dana sebagai perusahaan<\/li>\n<\/ul>\n<h2>Manfaat Analisis Rasio Keuangan<\/h2>\n<p>Analisis rasio keuangan jelas memberikan banyak manfaat untuk Anda dalam mengelola bisnis atau perusahaan.<\/p>\n<p>Data-data yang diperoleh setelah melakukan analisis rasio keuangan akan memberikan gambaran kepada Anda seberapa baik eksekusi plan bisnis Anda.<\/p>\n<p>Selain itu, analisis rasio keuangan juga memberikan banyak manfaat untuk bisnis Anda.<\/p>\n<p>Berikut beberapa manfaat analisis rasio keuangan, antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Rasio keuangan merupakan angka-angka dan ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan; dan merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit.<\/li>\n<li>Memberikan gambaran tentang sejarah perusahaan serta penilaian terhadap keadaan suatu perusahaan tertentu.<\/li>\n<li>Memberikan gambaran kepada investor dan kreditor tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan perusahaan dari suatu periode ke periode berikutnya.<\/li>\n<li>Dapat menentukan efisiensi kinerja dari manajer perusahaan yang diwujudkan dalam catatan keuangan dan laporan keuangan.<\/li>\n<li>Memungkinkan manajer keuangan untuk meramalkan reaksi para calon investor dan kreditur pada saat mencari tambahan dana.<\/li>\n<li>Dapat digunakan untuk membuat keputusan, pertimbangan dan prediksi berdasarkan tren tentang pencapaian perusahaan dan prospek pada masa datang.<\/li>\n<\/ul>\n<h2>Kesimpulan<\/h2>\n<p>Demikianlah pembahasan singkat mengenai ratio keuangan, mulai dari arti, jenis dan rumusan yang digunakan untuk menghitungnya.<\/p>\n<p>Selain ratio keuangan ini, memahami dan mengetahui laporan keuangan perusahaan juga sama pentingnya lho, yuk kita sempatkan juga membaca artikel 3 <a href=\"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/pengusaha-wajib-mengetahui-3-jenis-laporan-keuangan-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Jenis laporan keuangan<\/a> yang wajib diketahui oleh pengusaha\u00a0ini.<\/p>\n<p>Terima kasih telah membaca artikel ini dan jangan segan-segan untuk membagikan artikel ini ya, siapa tahu berguna juga untuk orang di sekitar Anda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rasio keuangan atau rasio keuangan atau rasio finansial memiliki peranan penting dalam menjalankan bisnis atau usaha. Setiap pimpinan suatu perusahaan sudah seharusnya memahami [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":13967,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[39],"tags":[2486,2487,2485,2489,2488],"views":59979,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13827"}],"collection":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13827"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13827\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13967"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13827"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13827"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/zahiraccounting.com\/id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13827"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}